Sukses

Dari Thesis, Aplikasi Media Sosial NoLimit Jadi Duit

Liputan6.com, Jakarta - Aplikasi monitoring media sosial memang bukan hal yang baru di internet. Namun aplikasi NoLimit buatan anak-anak muda asal Bandung ini diklaim punya keunggulan beda dari yang lain.

"Kami menawarkan fitur yang cukup lengkap untuk perusahaan tapi dengan harga yang terjangkau, plus kita khusus untuk Bahasa Indonesia. Jadi kata-kata alay kita sudah cover, kita kuat di Bahasa Indonesia," papar salah satu pendiri startup NoLimit Indonesia, Adiska Fardani Haryadi, dalam wawancara khusus di kantor Liputan6.com

Adiska mengungkap ide pembuatan aplikasi monitoring media sosial tersebut berawal dari thesis sang kakak kelas di kampusnya di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu, Aqsath Rasyid Naradhipa -- kakak kelas Adiska -- sedang mengerjakan thesis tentang sentimen analisis untuk Bahasa Indonesia di media sosial.

"Sentimen analisis itu adalah algoritma untuk menganalisis percakapan yang banyak, apakah percakapan itu cenderung negatif atau positif," jelas Adiska.  

Riset itu kemudian lahir ketika media sosial lagi booming di Indonesia. Lalu mereka melihat peluang bisnis analisis percakapan di media sosial untuk menghasilkan data-data tentang reputasi suatu merek atau tokoh masih terbuka lebar.

Karena itulah mereka mendirikan perusahaan rintisan berbasis internet (startup) pada tahun 2011, dimana Aqsath menjadi CEO-nya, Adiska menangani pengembangan bisnisnya, sedangkan Harimurti Prasetio mengurus teknologinya.

Dari Thesis Jadi Duit

Aplikasi NoLimit dibuat untuk memantau dan melihat respon publik terhadap sebuah merek, tokoh ataupun organisasi di media sosial, yang sering digunakan untuk kampanye.

Saat ini NoLimit masih difokuskan untuk korporat dan berbayar. Harga untuk korporat menurut Adiska mulai dari Rp 10 juta per bulan, tergantung kompleksitas keyword yang mau dipantau dan levelnya.

Adiska dan teman-temannya yakin aplikasi ini akan ada peminatnya karena permintaan untuk aplikasi ini cukup besar. Sekarang, dalam waktu tiga tahun, startup ini sudah memiliki 20 orang karyawan.

Dari menjual layanan berbayar ini, NoLimit Indonesia sudah bisa menjalankan operasional secara mandiri tanpa harus bergantung pada investor. "Setiap profit yang didapat juga digunakan untuk membuat produk lain yang baru," ujar Adiska.

Saat ini, aplikasi NoLimit sudah digunakan oleh sejumlah perusahaan di Indonesia dari beragam sektor termasuk telekomunikasi, bank, hingga swasta.

Gabung di Global Shapers Community

Selain di NoLimit Indonesia, Adiska juga ikut organisasi Global Shapers Community, yaitu sebuah organisasi bentukan dari World Economic Forum pusat yang ditujukan untuk leader-leader potensial dari kalangan anak muda dari berbagai kota di dunia. 

"Saya tergabung di organisasi itu dan setiap tahunnya selalu ada yang mengirimkan delegasi untuk mengikuti annual meeting. Nah, saya dapat kesempatan untuk mengikuti regional forum," tutur Adiska.

Di forum tersebut, Adiska berbagi wawasan tentang bagaimana negara Indonesia sudah memanfaatkan teknologi terutama media sosial untuk meningkatkan konektivitas, termasuk gerakan-gerakan yang dilakukan menggunakan media sosial.

Artikel Selanjutnya
Waspada, Ini 7 Tipuan Canggih di Internet
Artikel Selanjutnya
Ini Estimasi Pemasukan Akun Twitter Presiden Jokowi dan SBY