Sukses

Ini Cara Google Jadi Perusahaan Paling Bernilai di Dunia

Liputan6.com, Jakarta - Tim Google mulai bergerak maju dengan berbagai proyek inovatif dan berpotensi menguntungkan untuk mendominasi pasar smartphone.

Google semula hanya mesin pencari di internet. Namun saat ini Google sudah berkembang menjadi perusahaan yang memindai jutaan buku cetak, membuat peta setiap jalan di dunia, dan bahkan membuat mobil yang akan berkendara sendiri. 

Dilansir dari Mashable, Senin (11/7/2016) menurut para eksekutif perusahaan, masalah Google sehingga belum bisa mendorong pendapatan yang tinggi bukan terletak pada kurangnya ambisi, melainkan proses pengambilan keputusan fundamental pada bagian paling atas perusahaan yang memperlambat segalanya.

Selama hampir satu dekade, dua pendiri muda brilian Google, Larry Page dan Sergey Brin, membuat semua keputusan bersama-sama dengan eksekutif berpengalaman, yang saat ini merupakan CEO, Eric Schmidt.

Sebagai CFO, Pichette sering melihat para suite eksekutif eksklusif yang berpengaruh di Google tersebut dari tahun 2008 hingga ia keluar. Dari situ Pichette menyimpulkan perdebatan ketiga orang tersebut menyebabkan hambatan.

Pada beberapa kesempatan, Pichette mengatakan, tim produk akan menunggu selama 2,5 jam untuk keputusan dari para eksekutif, yang terkadang tidak menghasilkan apa-apa karena Page, Brin dan Schmidt justru sedang mendebatkan hal lain.

Selama perdebatan yang panjang, ketiga orang tersebut rentan terhadap perdebatan intelektual. Pichette meyakini bahwa hal inilah yang memperlambat seluruh manajemen.

Memperbaiki Google

Awal 2011, Google mengejutkan dunia teknologi dengan mengungkapkan bahwa Page akan mengambil alih posisi CEO Google, menggantikan posisi Schmidt, sementara Brin akan tetap menjadi co-founder. Dengan begitu, posisi mereka masing-masing jadi semakin jelas.

Page akan mengawasi teknologi kunci dan keputusan yang terkait dengan bisnis. Brin akan fokus pada "produk baru" seperti Google Glass dan mobil otonomos. Sementara Schmidt berfungsi sebagai penasihat untuk keduanya dengan lebih dari fokus pada perkembangan hubungan bisnis, upaya pemerintah, dan kepemimpinan pemikiran teknologi

Page berniat untuk mengembangkan bisnis baru untuk mendongkrak Google dan menjualnya ke pasaran. Solusinya terbagi menjadi dua bagian.

Pertama, Page akan mencari penggantinya, Sundar Pichai, untuk mengambil peran operasional yang lebih dalam di Google, serta memberdayakan eksekutif dari divisi utama lainnya. Hal itu akan membebaskan Page untuk lebih fokus pada keadaan yang lebih besar.

Kemudian, tahun kemarin Page kembali mengejutkan dunia teknologi dengan mengumumkan rencana untuk membuat perusahaan induk baru yang disebut Alphabet. Google hanya akan menjadi satu dari banyak anak perusahaan, bersama dengan Nest, Google Ventures dan lain-lain.

Pichette, yang memainkan peran dalam mempersiapkan Alphabet sebelum meninggalkan Google, melihat keputusan ini sebagai perubahan besar pertama kembali pada 2011.

(Shabrina Aulia Rahmah/Cas)