Sukses

Teknologi Ubah Manusia Jadi 'Kepompong' dan Berbuat Curang

Liputan6.com, Jakarta - Hampir 24 jam di dalam hidup manusia tidak terlepas dari ponselnya. Mulai dari bangun tidur, mereka akan memeriksa ponselnya untuk mengecek email, atau pun menanggapi pesan.

Lalu saat melewati hari, mereka akan terus terpaku pada segala perangkat gadget untuk penggunaan pribadi maupun pekerjaan.

Selain untuk melakukan hal seputar bisnis, teknologi juga mempermudah kita untuk tetap terhubung dengan orang-orang di sekitar, dekat maupun jauh.

Tetapi terkadang komunikasi yang dilakukan tidak sejalan dengan perkiraan. Hal ini karena teknologi tidak dibuat untuk mengetahui perasaan sesama manusia.

Mengutip laman Business2community, Jumat (25/3/2016), berikut penjelasan tentang bagaimana teknologi mempengaruhi hubungan antar manusia.

Percakapan jadi lepas konteks

Permasalahan paling umum para pengguna ponsel adalah tidak mudah mendeteksi nada bicara seseorang. Anda tidak akan pernah dengan menebak ketika seseorang menyidir, bercanda, serius atau biasa-biasa saja.

Sementara Anda tidak mungkin bertanya terus-menerus mengenai maksud mereka, apalagi bila percakapan yang Anda lakukan memang berisi hal yang sensitif, bisa mengundang amarah.

Seringkali karena hal tersebut, malah terjadi kesalahpahaman, miskomunikasi, dan asumsi-asumsi yang berdampak pada bagaimana kita kemudian menilai orang lain.

Kurangnya empati

Sebagai konsekuensi dari masalah konteks, empati juga menjadi permasalahan. Terkadang Anda akan mengucapkan empati pada situasi-situasi tertentu.

Akan tetapi, rasa empati tersebut tidak bisa dirasakan karena kata-kata tersebut tidak diterima secara langsung, melainkan lewat teknologi. Perasaan berduka yang seharusnya bisa saling dirasakan malah jadi tidak terasa sama sekali.

1 dari 2 halaman

Fenomena kepompong

Teknologi tidak bisa memberi kontak fisik

Terkadang yang Anda perlukan hanyalah sebuah pelukan, jabat tangan atau tepukan di punggung. Mungkin hal tersebut dapat digantikan dengan emoji maupun stiker yang sudah tersedia di media sosial.

Tetapi hal tersebut tidak menimbulkan kedekatan batin. Kedekatan melalui kontak fisik sama sekali tidak bisa dilakukan oleh teknologi.

Fenomena kepompong

Teknologi telah menjadi candu berbasis elektronik untuk beberapa orang. Mereka dibawa untuk melupakan dunia nyata dan berpegang pada fitur-fitur yang ditawarkan di dunia maya.

Hal ini jelas memiliki dampak pada kualitas hubungan manusia. Percakapan melalui media sosial menggeser interaksi tradisional dan diskusi yang dilakukan tatap mata.

Pada akhirnya, seseorang bahkan tidak perlu meninggalkan rumah untuk berkomunikasi dengan orang lain. Fenomena ini dinamakan fenomena kepompong, di mana interaksi mengarah pada isolasi sosial yang melumpuhkan produktivitas seseorang.

Kontak Online Mempercepat Hubungan 

Banyak kejadian perselingkuhan terjadi karena media sosial. Hubungan yang terjadi karena media sosial terbilang cukup cepat, sehingga orang yang melakukan hubungan dari media tersebut bisa dengan mudah melakukan kecurangan.

Media sosial dimiliki oleh masing-masing pribadi dan komunikasi dapat dilakukan kapan pun diinginkan. Oleh karena itu, bila pengguna media tersebut memiliki rahasia, akan sedikit sulit untuk melacak hubungan gelapnya.

(Shabrina Aulia Rahmah/Isk)