Sukses

Mimpi Gila Elon Musk: Ingin Meninggal di Planet Mars

Liputan6.com, California - CEO Tesla Elon Musk tampaknya begitu terobsesi dengan Planet Mars. Sampai-sampai, pria yang dijuluki 'Tony Stark' di kehidupan nyata tersebut memiliki mimpi gila, yaitu ingin mengembuskan napas terakhirnya di Planet Merah.

Pernyataan Musk yang sekilas terdengar semacam guyonan ini disampaikan kala ia berada di panggung Code Conference pada pekan lalu.

Di antara beberapa pernyataannya yang terdengar mustahil untuk dilakukan, Musk mengejutkan audiens bahwa ia ingin menghabiskan waktu hingga akhir hayat di Mars.

"Jika saya diperbolehkan memilih tempat untuk meninggal, Mars bukanlah pilihan yang buruk," kata Musk sebagaimana dikutip Vice, Minggu (5/6/2016).

Musk pernah mengungkap rencananya di mana ia ingin meluncurkan roket ke Mars pada 2018. Bersama dengan SpaceX miliknya, miliuner teknologi kelahiran 28 Juni 1971 ini berambisi ingin membawa umat manusia menghuni Mars pada 2025.

Pria ini tidak sendiri, CEO Amazon Jeff Bezos juga memiliki ambisi serupa. Ia bahkan memiliki proyek luar angkasa yang siap menantang Musk lewat perusahaan Blue Origins.

Bezos mengatakan, industri berat seharusnya bisa 'dipindah' ke luar angkasa. Dengan begitu, menurutnya Bumi menjadi lebih ringan dan nyaman dihuni umat manusia.

"Energi sangat terbatas di Bumi. Dalam kurun waktu beberapa ratus tahun, manusia nanti akan menghabiskan semua lahan di Bumi untuk mencari sumber energi. Mau tak mau kita harus pindah, terutama untuk sektor industri berat, mereka harus pindah ke sebuah planet. Jadi, Bumi kita dikhususkan untuk tempat tinggal yang nyaman dan industri ringan saja," ia menerangkan.

Meski begitu, persaingan antara Bezos dan Musk tidak membuatnya menjadi rival. Mereka bahkan berteman dan bersaing secara sportif. Keeratan keduanya tampak saat Bezos berhasil meluncurkan roket dan Musk memberikan ucapan selamat kepadanya.

SpaceX sendiri lebih dikenal banyak orang dari pada BlueOrigins. Bahkan, SpaceX telah melakukan peluncuran pesawat antariksa Dragon beberapa kali demi memasok kebutuhan stasiun luar angkasa internasional.

(Jek/Isk)

Artikel Selanjutnya
665 Hari di Luar Angkasa, Astronot 57 Tahun Ini Kembali ke Bumi
Artikel Selanjutnya
Robot Baru NASA Siap Selami Perut Mars pada 2018