Indonesia Sangat Tergantung pada Teknologi Impor
Tim Liputan 6 SCTV
29/12/2009 16:25 | Teknologi
Liputan6.com, Jakarta: Industri di Indonesia masih tergantung pada teknologi impor. Menurut kajian Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), berdasarkan data 1975 sampai 2007, dan mempresentasikan gambaran hingga 2009, pemanfaat teknologi lokal terkecil adalah sektor industri.
"Terdapat gejala deindustrialisasi di Indonesia, yang tercermin dari kenyataan industri dalam negeri, yang menggunakan 92 persen teknologi impor," ungkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan Aziz Iskandar, seperti dikutip Antara.
Menurut Marzan, pemanfaatan teknologi lokal terbesar adalah transportasi dan komunikasi, yang teknologi lokalnya menyumbang 15 persen. Sisanya diimpor, seperti dari Jepang, AS, Korea Selatan, hingga China. "Indonesia termasuk negara yang sumbangan komponen teknologinya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup rendah," jelas Marzan dengan menambahkan, pertumbuhan ekonomi memiliki tiga faktor, yakni modal, tenaga kerja dan teknologi.
Dengan demikian, lanjut Kepala BPPT ini, secara rata-rata kontribusi teknologi dalam pertumbuhan ekonomi hanya 1,69 %. "Itu artinya Indonesia masih mengandalkan 'factor driven economy', belum 'inovation driven economy'," katanya, dalam Catatan Akhir Tahun Penerapan Teknologi 2009, di Jakarta, Selasa (29/12).
Namun, Marzan mengakui, penyebab teknologi lokal tidak digunakan, antara lain karena tidak aplikatif, pemenuhan permintaan teknologinya lamban, hambatan birokratis serta tidak sesuai keinginan pasar. Tapi, lanjutnya, "Bisa juga karena teknologi dan hasil riset lokal sudah ada tetapi kurang dikenal dan disosialisasikan ke industri serta kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap penggunaan teknologi lokal tersebut." (ETA)
"Terdapat gejala deindustrialisasi di Indonesia, yang tercermin dari kenyataan industri dalam negeri, yang menggunakan 92 persen teknologi impor," ungkap Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Marzan Aziz Iskandar, seperti dikutip Antara.
Menurut Marzan, pemanfaatan teknologi lokal terbesar adalah transportasi dan komunikasi, yang teknologi lokalnya menyumbang 15 persen. Sisanya diimpor, seperti dari Jepang, AS, Korea Selatan, hingga China. "Indonesia termasuk negara yang sumbangan komponen teknologinya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup rendah," jelas Marzan dengan menambahkan, pertumbuhan ekonomi memiliki tiga faktor, yakni modal, tenaga kerja dan teknologi.
Dengan demikian, lanjut Kepala BPPT ini, secara rata-rata kontribusi teknologi dalam pertumbuhan ekonomi hanya 1,69 %. "Itu artinya Indonesia masih mengandalkan 'factor driven economy', belum 'inovation driven economy'," katanya, dalam Catatan Akhir Tahun Penerapan Teknologi 2009, di Jakarta, Selasa (29/12).
Namun, Marzan mengakui, penyebab teknologi lokal tidak digunakan, antara lain karena tidak aplikatif, pemenuhan permintaan teknologinya lamban, hambatan birokratis serta tidak sesuai keinginan pasar. Tapi, lanjutnya, "Bisa juga karena teknologi dan hasil riset lokal sudah ada tetapi kurang dikenal dan disosialisasikan ke industri serta kurangnya aksesibilitas masyarakat terhadap penggunaan teknologi lokal tersebut." (ETA)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
