Sukses

Indonesia Bakal Miliki Smart Card Buatan Anak Bangsa

Liputan6.com, Bandung - Akhir tahun ini, Indonesia akan memiliki smart card (kartu pintar) buatan bangsa yang dapat digunakan dalam banyak kebutuhan sehari-hari.

Rektor Telkom University (Tel-U) Mochamad Ashari rencana ini sejalan dengan konsorsium smart card yang digagasnya pada awal tahun ini.

Adapun, konsorsium tersebut resmi diperkenalkan ke khalayak pada Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harkitnas) di Solo, Agustus lalu.

Kartu pintar ini kelak dapat digunakan untuk mengakses data akademik, pembayaran di kantin, kehadiran mahasiswa di kelas, pengelolaan ruang kuliah, akses ruangan, monitoring aktivitas kampus, hingga penggunaan locker dan mailbox.

"Kami, bersama ITB, UI, dan Universitas Hasanuddin, punya target masing-masing buat 2.500 prototipe smart card akhir 2016. Ini bukan sekadar riset karena akan diproduksi oleh anggota konsorsium," katanya kepada tim Tekno Liputan6.com di Bandung beberapa waktu lalu.

Anggota konsorsium ini antara lain PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti), PT Xirka Silicon Technology, PT Data Aksara Matra (PT DAM), PT Inti Bangun Sejahtera (IBS), dan PT Versatile.

Tel-U sebagai penggagas, kata Ashari, akan membuat desain dan riset terkait reader dari kartu pintar tersebut. Hal ini dilakukan kelompok riset gabungan Teknik Informatika dan Teknik Elektro di bawah Dekan Teknik Informatika Maman Abdurohman.

Menurutnya, perguruan tinggi lainnya memiliki tugas desain berbeda, demikian pula dari industrinya. Dengan begitu, simbiosis yang saling menguntungkan dan segera menghasilkan produk sendiri.

"Indonesia butuh kemandirian teknologi agar riset sampai produksi dikuasai anak-anak bangsa. Maka itu Tel-U bersama konsorsium perguruan tinggi dan industri yang didukung Dewan Riset Nasional, Kemkominfo, dan Kemendikti Risti menggagas pengembangan smart card ini," ujarnya.

Saat ini, kartu ini sudah bisa digunakan untuk memasukkan kehadiran dosen dan mahasiswa di kampus Tel-U.

Ashari optimistis hasil riset ini dapat berkompetisi dengan produk lainnya karena pembuatannya melibatkan SDM yang unggul di bidangnya.

(Msu/Cas)