Sukses

Studi: Pengguna Facebook Punya Risiko Kematian Lebih Rendah

Liputan6.com, Jakarta - Banyak perdebatan antara hubungan sosial yang kuat dan risiko kematian. Muncul anggapan terlalu banyak berinteraksi di dunia maya dapat meningkatkan angka kematian. Namun, kini ada penjelasan ilmiah terhadap hal tersebut.

Sebuah penelitian pada Proceedings Journal yang diterbitkan National Academy of Sciences menemukan bahwa orang yang menggunakan Facebook memiliki risiko kematian lebih rendah. Temuan ini sekaligus menangkis anggapan media sosial membuat orang-orang buta akan kehidupan sosial yang sebenarnya.

"Ada yang khawatir media sosial dapat menggantikan hubungan sosial di dunia nyata. Tapi tidak pernah ada perdebatan sebelum ini, di mana kami bisa menyocokan data standar tentang hasil kesehatan sejumlah orang yang memakai media sosial," ungkap James Fowler, seorang ilmuwan dari Universitas California, San Diego, Amerika Serikat.

Seperti dikutip dari CBC, Selasa (8/11/2016), hasil penelitian mengungkap risiko kematian pengguna Facebok lebih rendah 12 persen ketimbang orang yang tidak menggunakan Facebook.

Namun hal ini tidak mengartikan bahwa Facebook baik untuk memperpanjang hidup. Korelasi ini tidak membuktikan sebab akibat, sehingga tidak mungkin dikatakan bahwa Facebook membuat orang lebih sehat atau orang menjadi sehat saat menggunakan Facebook.

Hasil penelitian ini tidak menghilangkan prasangka negatif seseorang terhadap media sosial seperti yang dikatakan Fowler. "Fakta bahwa kita menemukan hubungan positif yang kuat antara kesehatan dan jejaring sosial terhadap hipotesis, adalah jejaring sosial membuat orang tidak sehat dalam beberapa cara."

Lalu apa yang membuat Facebook bisa memperpanjang hidupmu?
1 dari 2 halaman

Punya Banyak Teman

Punya Banyak Teman

Hanya beberapa aktivitas Facebook yang dapat dikaitkan dengan peluang memperpanjang hidup. Misalnya, mengunggah atau menandai (tag) foto. Contoh lainnya adalah menulis status atau mengirimkan pesan. Tidak masalah jika memiliki banyak teman di Facebook selama kamu mengenalnya.

Namun penelitian menuliskan bahwa tidak adanya hubungan linier antara kematian dan mengirim permintaan pertemanan.

"Langkah selanjutnya dari penelitian adalah mencari tahu apa yang bisa dilakukan tentang hal ini. Lebih mudah membayangkan untuk mendapatkan teman daripada berteman agar menjadi lebih menarik secara fisik atau lebih populer. Hal ini yang sulit untuk diubah," jelas Fowler. 

Dapat Dukungan Moral

Fowler menemukan adanya harapan tentang siapa yang mendapatkan hasil maksimal dari teman-teman Facebook. Memiliki persahabatan di dunia online dapat mengurangi tingkat kematian dari permasalahan yang terjadi pada kehidupannya.

"Perilaku sosial dapat ditularkan dari orang ke orang. Jadi jika orang mulai berolahraga, pengguna lain lebih mungkin ikut untuk berolahraga. Jika pengguna memulai untuk hidup sehat, pengguna lain bisa mengikutinya. Ini berlaku untuk persahabatan online maupun offline," lanjutnya.

"Orang bisa mendapatkan dukungan sosial ketika orang berada dalam masa krisis ataupun ketika sedang tidak sehat. Ada orang yang bisa mengurus mereka."

Sebuah Langkah yang Baik

Meski cakupan tentang penelitian ini cukup luas, ternyata penelitian ini mempunyai kelemahan. Beberapa temuan menjelaskan tentang fakta bahwa pengguna Facebook cenderung berasal dari latar belakang sosial ekonomi yang lebih tinggi.

Terlebih lagi, penelitian ini terbatas hanya untuk jangka waktu dua tahun. Sebuah penelitian jangka panjang dari populasi yang lebih luas dapat menghasilkan hasil yang berbeda. Tapi menurut Fowler, yang lebih penting adalah langkah pertama untuk memahami nilai interaksi online. "Semakin banyak kehidupan sosial kita, saya pikir akan dilakukan secara online," tambahnya.

Pada studi ini, Fowler dan rekan-rekannya meneliti empat juta pengguna Facebook di California. Mereka menggunakan data dari Departemen Kesehatan California untuk membandingkan orang yang tidak dan menggunakan platform jejaring sosial.

(Raehan Maulida/Cas)