Sukses

Taiwan Minta Apple dan Google Hapus Uber dari Toko Aplikasi

Liputan6.com, Jakarta - Taiwan berencana meminta Apple dan perusahaan induk Google, Alphabet untuk menghapus aplikasi Uber di Taiwan dari toko aplikasi masing-masing. Menurut seorang pejabat pemerintah, hal ini dilakukan untuk menghindari pertikaian antara keduanya.

Informasi yang dikutip Tekno Liputan6.com dari Reuters, Jumat (18/11/2016), alih-alih mendefinisikan perusahaan beroperasi sebagai perusahaan transportasi, di Taiwan Uber memperkenalkan diri sebagai platform teknologi berbasis internet.

Pemerintah Taiwan menganggap ada mis-representasi dari layanan yang dihadirkan Uber, kemudian pemerintah meminta perusahaan untuk membayar pajak.

Sementara itu, Uber telah berkomunikasi dengan pihak yang berwenang di Taiwan serta berusaha mematuhi regulasi yang ada.

"Uber belum memenuhi apa yang mereka janjikan. Karenanya kami berupaya mencari jalan lain, yakni dengan meminta Google dan Apple menghapus aplikasi tersebut dari toko aplikasi mereka," ujar juru bicara Directorate General of Highways Taiwan LiangGuo-guo.

Sebagai informasi, direktorat tersebut merupakan direktorat yang berwenang menangani masalah transportasi di Taiwan.

Liang menyebut, tak hanya aplikasi Uber, pihaknya juga meminta Apple dan Google menghapus aplikasi UberEats yang diluncurkan beberapa hari lalu. UberEats diluncurkan untuk memperluas bisnis Uber di seluruh dunia.

Meski begitu, tak jelas apakah langkah itu akan sukses menghambat Uber di Taiwan. Sebab, pengguna masih bisa mengunduh aplikasi Uber melalui alternatif lain. Tak jelas juga bagaimana pemerintah Taiwan akan mengatasi warganya yang sudah terlanjur mengunduh Uber.

Selain meminta aplikasi UberEats dihapus dari toko aplikasi, Kementerian Transportasi dan Komunikasi Taiwan mulai memberi penalti bagi pengendara roda dua UberEats dengan membekukan SIM-nya antara dua hingga enam bulan.

Merujuk pada kebijakan di Google Play, juru bicara Google menyebutkan bahwa perusahaan tidak mungkin memberikan izin bagi aplikasi yang memfasilitasi atau mempromosikan aktivitas ilegal. Sayangnya, Google menolak berkomentar lebih lanjut.

Sementara itu, baik Uber maupun Apple menolak untuk berkomentar akan hal ini.

Tak cuma di Taiwan, Uber juga menghadapi persoalan serupa di berbagai negara lain di Asia. Uber sendiri mulai masuk ke Taiwan sejak 2013 dan pertumbuhannya memicu kemarahan dari pengemudi taksi lokal yang melayangkan protes awal tahun ini.

(Tin/Isk)