Sukses

Mendorong UMKM Indonesia Lewat Platform Investasi Online

Liputan6.com, Jakarta Di Indonesia, terdapat 57 juta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Namun sayangnya, angka itu tidak naik sejak tahun 2010.

Untuk mendorong masyarakat Indonesia berinvestasi di UMKM, lahirlah sebuah inovasi microlending untuk mewujudkan keuangan inklusif dengan platform investasi online Amartha untuk para UMKM.

Amartha menyediakan opsi yang lebih terjangkau dengan bagi hasil yang kompetitif. Melalui peer-to-peer platform Amartha, dana investasi juga dijamin keamanannya dan para investor bisa langsung mengetahui siapa yang akan diberi dana seperti pengrajin bros, pengusaha keset, pembuat rengginang, dan sebagainya.

Mendorong para UMKM di Indonesia ini adalah alasan mengapa Andi Taufan Garuda Putra mendirikan Amartha. Ia menjelaskan, awalnya investasi UMKM di Amartha dimulai dari sebuah kecamatan di pelosok daerah yang belum sepenuhnya terjangkau oleh layanan bank.

"Amartha menyentuh masyarakat pelosok agar mereka mendapatkan akses ke modal usaha meskipun tidak memiliki rekening bank," kata Taufan seperti dikutip Tekno Liputan6.com dari materi diskusi panel hasil kerja sama dengan CODE Margonda di kantor Amartha, Kamis (1/12/2016).

Dalam membangun Amartha, Taufan membuka pintu selebar-lebarnya untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak lain seperti kerja sama dalam membangun platform dan kerja sama dengan perbankan.

Selain Taufan, diskusi panel ini dihadiri beberapa pembicara yang ahli di bidangnya. Mereka adalah Junanto Herdiawan (Head of Bank Indonesia FinTech Office), Didi Diarsa​ (Pengusaha, penggerak UMKM, dan eks pengurus komunitas wirausaha Tangan di Atas), dan Vivi Alatas​ (Lead Economist Bank Dunia program pengentasan kemiskinan).

Mengenai teknologi finansial (fintech) semacam Amartha, Junanto mengutarakan bahwa Bank Indonesia saat ini bersinggungan dengan OJK, Kemendag, dan Kominfo untuk mengatur regulasi terkait teknologi dan keuangan.

"Bank Indonesia kini sedang membahas terkait perlindungan konsumen dan investor, memonitor kondisi yang berkembang saat ini, dan pasang surutnya ranah teknologi finansial," ungkapnya.

 “Fintech sendiri sudah muncul sejak tahun 2014 yang bertujuan untuk memberikan layanan ke pos-pos finansial yang masih kosong. Kepentingannya bukan cuma kapital tetapi juga keluhuran untuk mengakses masyarakat yang belum mendapat akses perbankan” tambah Junanto.

Sementara Didi Diarsa mengatakan bahwa UMKM saat ini menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia agar ekonominya tetap tumbuh. Lebih lanjut, Vivi Alatas menuturkan bahwa UMKM menjadi penting karena dapat mengangkat seseorang dari kemiskinan, kerentanan, dan ketimpangan.

Menurut Vivi, Indonesia saat ini masih menghadapi 3K: kemiskinan, kerentanan, ketimpangan. Kerentanan terjadi karena bencana, misalnya banjir, gempa bumi, dan sebagainya. Perlu kerja sama multi sektor untuk mempercepat pemulihan dari bencana ini. Ketimpangan terjadi karena unequal opportunities yang dibawa sejak lahir.

"Orang yang dilahirkan dari keluarga miskin-kaya, desa-kota, well educated-uneducated, tidak memiliki akses setara. Nah, tugas kita memberikan akses tersebut, seperti Amartha memberikan akses pembiayaan yang dapat berkembang karena pangsanya masih luas,” imbuhnya.

Ia memaparkan, terdapat 57 juta UMKM di Indonesia pada tahun 2013 yang mampu menyerap 96 persen pekerja dan berkontribusi pada GDP Indonesia sebesar 58 persen.

"Tapi angka ini tidak naik sejak tahun 2010. Perlu ada bantuan agar UMKM naik kelas. UMKM penting karena masih ada 28.6 juta rakyat miskin dan 62 juta hampir miskin,” tutup Vivi.

(Isk/Cas)

Artikel Selanjutnya
Potensi Fintech dalam Kehidupan Ekonomi Modern di Indonesia
Artikel Selanjutnya
Kementerian Koperasi Akan Luncurkan Early Warning System UMKM