Sukses

Bisnis Gelap Ratusan Juta Rupiah di Balik Situs Berita Palsu

Liputan6.com, Jakarta - Media sosial semisal Facebook kini bukan hanya berperan sebagai media sosial. Lebih dari itu, Facebook menjadi medium bagi penggunanya untuk memperoleh berita. Namun sayang, diakui atau tidak sebagian berita-berita yang menyebar di Facebook belum bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Fakta menarik diungkap oleh perusahaan yang bergerak di bidang analisis pemasaran, Jumpshot. Perusahaan berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat itu menyebut, melalui perantara Facebook, sejumlah situs-situs berita palsu dan partisan meraup lebih dari 70 persen traffic (lalu lintas) di perangkat desktop.

Sebaliknya, situs-situs berita arus utama (mainstream) semisal New York Times, hanya mampu menyedot kurang dari 30 persen traffic di perangkat desktop.

Selama September hingga November, sebagaimana dikutip dari Quartz, Senin (5/12/2016), Jumpshot mengumpulkan data dari lebih dari 20 situs berita palsu, situs partisan, dan situs berita arus utama.

Terungkap, secara keseluruhan situs berita palsu dan situs partisan meraup 50 persen traffic dari Facebook, sedangkan situs berita arus utama hanya mengantongi 20 persen traffic.

Fakta yang tak kalah menarik adalah, berita-berita palsu yang beredar di Facebook sama-sama populer baik di negara bagian dengan basis pendukung partai Republik maupun partai Demokrat. Demikian gambaran singkat kondisi di AS saat ini terkait peredaran berita palsu.

Bagaimana di Indonesia? Bisa dibilang tak jauh berbeda. Saat ini mudah bagi kita untuk menemukan berita-berita yang tak jelas kebenarannya menjadi viral di beranda Facebook.

Kalau kita perhatikan, angka 'share' berita itu sangat fantastis. Belum termasuk angka 'click' yang biasanya jauh lebih tinggi dari angka 'share'.

1 dari 5 halaman

Siapa Diuntungkan Oleh Berita Palsu?

Pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang mengais keuntungan di balik peredaran berita palsu? Menjawab pertanyaan ini sangat enteng. Tentu saja sang pemilik situs berita palsu itulah yang paling diuntungkan. Setidaknya keuntungan yang sudah pasti didapat adalah traffic (lalu lintas) situs berita palsu itu meningkat drastis.

Selanjutnya, para visitor (pengunjung) situs berita palsu itu yang berasal dari Facebook, juga berpotensi untuk mengklik iklan-iklan Google AdSense yang terpampang di sana. Mungkin ini terdengar mengada-ada, tetapi usai menyimak cerita berikut ini, Anda pasti akan memahaminya.

Di Kanada, dua orang remaja berusia belasan tahun yang mengelola situs berita palsu Hot Global News, mampu mengantongi 900 dolar Kanada atau sekira 9.091.728 rupiah (Kurs 1 dolar Kanada = 10.101 rupiah) dalam waktu satu hari hanya dari satu berita palsu berjudul "Perdana Menteri Kanada Akan Membangun Toko Ganja di Setiap Kota di Wilayah Kanada".

Dalam waktu tiga bulan sejak diterbitkan, artikel itu dibaca oleh lebih dari 170.000 kali dan menerima lebih dari 20.000 likes, shares, dan komentar di Facebook.

Sejak saat itu, situs berita palsu tersebut kemudian menerbitkan sekitar 40 berita palsu tentang Perdana Menteri Kanada, termasuk berita berjudul "Perdana Menteri Kanada Melarang Uber di Kanada", "Perdana Menteri Kanada Membatalkan Rencana Legalisasi Ganja", dan "Perdana Menteri Kanada Menyatakan Diri sebagai The Next Nelson Mandela".

Remaja pemilik situs berita palsu itu pun tak segan menunjukkan tangkapan layar (screenshot) akun Google AdSense di bulan Oktober 2015. Tebak, berapa nominal yang mereka dapat di bulan itu dari berita palsu yang mereka buat? 10.734 dolar Kanada atau sekitar 108.438.055 rupiah!

Saat ini mereka berdua konsisten meraup ribuan dolar kanada per bulan dan belum lama ini menambah "amunisi" berupa dua situs berita palsu baru. Demikian dirangkum dari Buzzfeed News.

Apakah ada orang-orang "cerdik" seperti kedua remaja ini yang menjalankan "bisnis hitam" melalui peredaran berita palsu di Indonesia? Ada! Pihak mana yang tak tergiur dengan potensi pengguna internet Indonesia yang saat ini mencapai 132,7 juta pengguna? 

Di sisi lain, bila berita tersebut misalnya menjelek-jelekkan seorang tokoh politik, pihak yang juga diuntungkan adalah lawan politik dari tokoh tersebut.

2 dari 5 halaman

Bukan Pertama Kali

Kasus situs berita palsu di Indonesia bukan terjadi baru-baru ini. Dua tahun lalu ketika masa-masa Pemilihan Presiden, kasus serupa sudah pernah mengemuka. Selain membentuk opini publik yang salah, menurut Sigit Widodo dari Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), motif di baliknya adalah mencari keuntungan.

"[...] Bisa saja pembuatnya mencoba memanfaatkan sentimen pilpres yang tersisa untuk mengais-ngais keuntungan karena mereka juga memasang Google AdSense di situ. Makin banyak traffic yang masuk, mereka akan makin banyak mendapat uang dari Google," ujar Sigit kepada Tekno Liputan6.com.

Dilihat dari sisi tampilan website, Sigit menduga situs berita palsu ini tidak digarap dengan profesional. "Situs ini dibuat dengan program aplikasi Wordpress standar, yang bisa dibuat oleh siapa pun dengan kemampuan IT yang sangat minim," papar Sigit.

Memang, menurut pantauan Tekno Liputan6.com, banyak situs berita palsu dirancang dengan menggunakan Wordpress yang tidak sampai satu jam pun bisa selesai dan mengudara.

Hal ini berbeda dengan situs web arus utama yang kebanyakan menggunakan Content Management System (CMS) lebih profesional, bahkan membuat CMS sendiri untuk memaksimalkan fitur-fitur yang mereka inginkan.

3 dari 5 halaman

Upaya Facebook Menekan Peredaran Berita Palsu

Untuk diketahui, sistem algoritma News Feed di Facebook memungkinkan penggunanya menjadi hanya terpaku pada satu pandangan atau topik. Hal itu disebabkan algoritma ini berusaha menampilkan konten yang dinilai relevan dengan penggunanya. Namun sayang, algoritma ini tidak (belum) mampu membedakan apakah konten tersebut benar atau tidak.

Eli Pariser menyebutnya sebagai filter bubble. Melalui buku berjudul "The Filter Bubble: What The Internet is Hiding", ia mengatakan sistem ini mungkin sangat pas diterapkan untuk kebutuhan penyedia layanan eCommerce, tetapi tidak cocok bila diimplementasikan di media sosial sebagai media untuk menyuarakan ekspresi dan pendapat di era demokrasi. 

Pasalnya, pengguna yang memilih satu kata kunci, akan terus mendapat informasi sesuai dengan kata kunci tersebut, tanpa ada pandangan lain. Keadaan ini berlaku hampir di seluruh pengguna Facebook. Oleh sebab itu, sangat mungkin seseorang memperoleh informasi dari satu perspektif saja.

Sebagai jejaring sosial dengan jumlah pengguna terbanyak di dunia, yakni lebih dari 1 miliar, Facebook tak tinggal diam. Kepada The Wall Street Journal, juru bicara Facebook menegaskan akan mulai memblokir laman-laman yang menghadirkan informasi atau berita palsu dari Facebook Audience Network. 

Laman-laman tersebut tak akan tampil di Facebook karena telah dikategorikan sebagai informasi menyesatkan, ilegal atau dianggap sebagai penipu.

Langkah lainnya yang Facebook tempuh adalah pelaporan oleh pengguna dan pendeteksian berita yang lebih baik. "[...] Kami memiliki banyak pekerjaan di depan dengan roadmap kami," tutur Zuckerberg seperti dikutip dari Reuters, Senin (21/11/2016).

Ia pun membeberkan langkah-langkah yang telah ditempuh, termasuk menggunakan lebih banyak automatisasi untuk mendeteksi apa yang akan ditandai pengguna sebagai sesuatu hal yang salah, sebelum mereka melakukannya sendiri. 

Dalam upaya pengecekan fakta, menurut Zuckerberg, Facebook akan mempermudah proses pelaporan konten palsu melalui kerja sama dengan organisasi verifikasi pihak ketiga dan jurnalis. Selain itu, Facebook akan mengeksplorasi konten yang telah ditandai. 

Terbaru, Facebook dikabarkan akan meluncurkan fitur bernama Colletions untuk menangkal berita palsu. Fitur ini akan berfungsi seperti kolom Discover di Snapchat; beragam berita, video, dan konten lain dari rekanan media akan ditampilkan dalam sebuah kolom khusus. 

Walau belum dapat dipastikan kapan fitur ini akan meluncur, Facebook disebut-sebut telah mulai melakukan pendekatan terhadap beberapa perusahaan media untuk mengisi konten di Collection. 

4 dari 5 halaman

Cara Memverifikasi Sumber Berita

Di atas sudah diuraikan fakta mengenai traffick situs berita palsu yang begitu tinggi, siapa saja yang diuntungkan, dan bagaimana upaya Facebook menekan peredaran berita palsu.

Di bagian ini, mengutip tulisan seorang asisten profesor di bidang komunikasi dan media Melissa Zimdars berjudul False, Misleading, Clickbait-y, and/or Satirical "News" Sources, berikut ini 11 langkah untuk memverifikasi sumber berita di internet.

1. Hindari Alamat Situs Berakhiran -lo.

Di luar negeri misalnya ada Newslo, Politicalo, dan Religionlo. Situs web semacam ini biasanya memenggal potongan informasi dari berita akurat, kemudian memolesnya dengan fakta-fakta keliru atau bahkan opini yang menggiring pembacanya.

2. Waspada Terhadap Situs Berakhiran .com.co

Biasanya situs web tersebut merupakan versi palsu dari sumber berita asli. Misalnya, Liputan6.com adalah sumber berita asli, kemudian ada pihak tak bertanggung jawab membuat situs web beralamat Liputan6.com.co untuk mengelabui pembaca dan pengguna internet.

3. Pastikan Situs Berita Arus Utama Melaporkan Berita Tersebut

Biasanya, ada lebih dari satu sumber berita yang seharusnya melaporkan suatu topik atau peristiwa.

4. Nama Domain Aneh

Pada umumnya nama domain aneh memuat berita aneh dan belum tentu benar.

5. Atribusi Penulis (dan Editor)

Ketiadaan atribusi penulis kadang kala menandakan bahwa suatu berita patut dicurigai dan perlu diverifikasi kebenarannya. Misalnya, portal berita arus utama seperti Liputan6.com selalu memuat siapa penulis atau reporter berita itu dan siapa yang mengeditnya, serta memilik laman khusus yang memuat susunan redaksinya.

6. Proses Penyuntingan

Beberapa situs web juga memungkinkan blogger, penulis lepas, atau pemilik akun di situs webnya untuk mengeposkan artikel di bawah bendera merek berita tertentu; Namun, banyak di antara artikel semacam ini tidak melalui proses penyuntingan yang sama layaknya sebuah berita, contohnya BuzzFeed Community Posts, Kinja blogs, Forbes blogs.

7. Tentang Kami

Periksa halaman Tentang Kami (About us) di situs web tersebut, atau cari informasi tentang situs web tersebut di Snopes, Wikipedia, dan lainnya.

8. Desain Web Buruk dan Huruf Kapital

Coba perhatikan desain halaman situs web tersebut, apakah asal-asalan, norak, aneh, atau buruk? Kemudian lihat, apakah situs web tersebut menggunakan huruf kapital untuk semua huruf di judul beritanya atau di halamannya?

Kedua hal ini merupakan tanda bahwa situs web yang kamu baca harus diverifikasi dan atau dibaca beriringan dengan sumber lain, untuk memverifikasi kebenarannya.

9. Memancing Amarah

Jika berita yang kamu baca di suatu sumber berita betul-betul membuat kamu marah, sebaiknya kamu membaca topik berita itu melalui sumber lain untuk memastikan apakah cerita yang kamu baca, secara tak langsung memang sengaja mencoba untuk membuat kamu marah (dengan informasi yang berpotensi menyesatkan atau palsu), untuk menghasilkan angka shares dan pendapatan iklan yang tinggi.

10. Doxing

Bila situs web yang kamu baca mendorong Anda untuk melakukan doxing (mengumpulkan informasi personal di internet, meliputi nama asli, alias, alamat, nomor telepon, dan lain-lain) terhadap seseorang, sepertinya situs web itu bukan sumber berita yang valid.

11. Baca beberapa sumber

Sangat disarankan untuk membaca beberapa sumber informasi untuk memahami berbagai sudut pandang sebuah berita secara lebih baik.  

(Why/Isk)

Artikel Selanjutnya
Laris, Koleksi Sepatu Mahal Pengedar Narkoba yang Dilelang Polisi
Artikel Selanjutnya
2 Pasutri Penipu Banyak Orang yang Paling Menghebohkan