Sukses

Ambisi Zomato Rajai Industri Foodtech di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta Industri food technology (foodtech) di Indonesia terbilang cukup ketat dan saling berlomba untuk menawarkan solusi yang lebih baik untuk para pecinta kuliner.

Belum lama ini, salah satu layanan pesan-antar makanan melalui situs atau aplikasi, Foodpanda, akhirnya menyerah dan menutup layanannya di Tanah Air. Di Indonesia, startup yang didanai oleh Rocket Internet itu mengaku sulit bersaing.

Mereka tak bisa menyediakan pilihan fleksibel seperti layanan GoFood yang bisa memilih restoran mana saja yang bisa dijangkau oleh driver Go-Jek. GoFood diklaim sebagai layanan pengiriman makanan terbesar kedua di dunia.

Lain halnya dengan Zomato, pemain foodtech yang berbasis di India itu menyatakan untuk melipatgandakan usaha mereka di Indonesia. Mereka bahkan dan menargetkan untuk memenangkan pertarungan sengit dalam industri foodtech dengan fitur sosial baru dan mutakhir serta menghubungkan Zomato dengan aplikasi pihak ketiga.

Melalui keterangan tertulisnya, Country Manager Zomato Karthik Shetty menjelaskan bagaimana Zomato menargetkan untuk memenangkan hati dan 'perut' dari para generasi milenial di Tanah Air.

“Teknologi adalah jantung dari segala hal di Zomato. Banyak hal yang kita gunakan secara cuma-cuma memiliki algoritma kompleks di belakangnya. Zomato tidak hanya membantu pengguna menyediakan informasi lengkap mengenai restoran, tetapi juga membantu pengguna ‘menemukan’ dan mencari restoran baru dengan fitur ‘search’ dan ‘nearby’,” ujar Karthik.

Pengguna, lanjutnya, juga bisa membangun jaringan pecinta kuliner sendiri. Zomato juga memiliki fitur yang memungkinkan pengguna menciptakan daftar koleksi restoran, yang pastinya merupakan daftar pribadi yang bisa dengan mudah dibagikan ke teman-teman melalui SMS, WhatsApp, Path, Facebook, Twitter, dan lainnya.

Zomato mengklaim berbeda dengan kompetitornya, yaitu Qraved dan MakanLuar. Dengan Zomato, pengguna bisa memilih restoran yang ingin mereka kunjungi dan memesan Uber langsung melalui Zomato untuk mengantarkan mereka ke restoran tersebut.

Sama halnya seperti foto, pengguna yang menggambil foto dan mengunggahnya melalui Instagram juga bisa secara instan menggunggahnya pada akun Zomato.

Karthik menjelaskan, integrasi dengan aplikasi pihak ketiga, seperti Uber dan Instagram ke Zomato, membuat pengalaman berkuliner menjadi lebih mudah, menyenangkan, dan tentunya sosial dari awal hingga akhir.

Soal trafik saat ini, Karthik mengatakan bahwa di Jakarta dan Bali, Zomato telah memiliki lebih dari 2 juta pengguna dengan trafik bulanan mencapai 6 juta kunjungan untuk Jakarta. Pengguna lokal biasanya mencari rata-rata sembilan hingga sepuluh laman dalam sekali kunjungan dengan durasi empat menit per sesi.

(Isk/Cas)

Artikel Selanjutnya
Tips Tetap Eksis di Media Sosial Sekaligus Hemat Kuota
Artikel Selanjutnya
Kapoocino, Media Sosial Buatan Arek Suroboyo