"Video Mapping", Layar Tancap Versi Modern
Tim Liputan6 SCTV
21/03/2010 08:23 | Kreativitas
Liputan6.com, Jakarta: Ribuan warga Ibu Kota pada Sabtu akhir pekan lalu mendapat suguhan pertunjukan spektakuler video mapping di kawasan Kota Tua, Jakarta. Mungkin istilah video mapping terdengar asing karena pertunjukan ini baru pertama kali digelar di Indonesia. Yang jelas, pengunjung dibuat kagum oleh permainan grafis dan visual di dinding Museum Fatahillah, malam itu [baca: Video Mapping 3D Pukau Ribuan Warga].
Bagaimana tidak, seluruh bagian depan Museum Fatahillah tiba-tiba sudah menjadi layar bagi gambar-gambar yang bergerak cepat. Ini adalah visualisasi dari grafis yang dibuat di komputer, jadi bukan semacam pancaran laser. Gambar-gambar grafis tersebut kemudian diproyeksikan ke dinding gedung menggunakan proyektor video beresolusi tinggi. "Ini konsep sederhana dari proyektor yang digunakan di kantor-kantor," ujar Adi Panuntun, salah satu kreator pertunjukan di Museum Fatahillah tersebut.
Kreator lainnya, Sakti Parantean, menjelaskan bahwa video mapping adalah semacam layar tancap versi modern. Idenya sendiri muncul sekitar dua tahun lalu di Eropa yang bertujuan untuk membuat sebuah pertunjukan bagi publik di ruang publik. "Tidak ada sekolah khusus untuk mempelajarinya dan ini hasil dari kreativitas kami," ujar Adi dalam dialog Liputan 6 Pagi SCTV, Ahad (21/3).
Proyek di Museum Fatahilah sendiri menurut Adi cukup rumit karena harus bekerja sama dengan seniman Inggris. Persiapan untuk hal-hal berbau teknis saja sekitar dua bulan, sedangkan secara keseluruhan pertunjukan di Kota Tua itu menghabiskan waktu enam bulan.
Kendati demikian, menurut keduanya persiapan dari sisi kreatif tak ada masalah. Justru yang paling repot itu adalah mengurus lokasi. "Seperti di Fatahilah, perizinannya tidak mudah," jelas Sakti. Pemerintah agaknya perlu lebih memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi anak muda di negeri ini untuk berkreasi.(ADO)
Bagaimana tidak, seluruh bagian depan Museum Fatahillah tiba-tiba sudah menjadi layar bagi gambar-gambar yang bergerak cepat. Ini adalah visualisasi dari grafis yang dibuat di komputer, jadi bukan semacam pancaran laser. Gambar-gambar grafis tersebut kemudian diproyeksikan ke dinding gedung menggunakan proyektor video beresolusi tinggi. "Ini konsep sederhana dari proyektor yang digunakan di kantor-kantor," ujar Adi Panuntun, salah satu kreator pertunjukan di Museum Fatahillah tersebut.
Kreator lainnya, Sakti Parantean, menjelaskan bahwa video mapping adalah semacam layar tancap versi modern. Idenya sendiri muncul sekitar dua tahun lalu di Eropa yang bertujuan untuk membuat sebuah pertunjukan bagi publik di ruang publik. "Tidak ada sekolah khusus untuk mempelajarinya dan ini hasil dari kreativitas kami," ujar Adi dalam dialog Liputan 6 Pagi SCTV, Ahad (21/3).
Proyek di Museum Fatahilah sendiri menurut Adi cukup rumit karena harus bekerja sama dengan seniman Inggris. Persiapan untuk hal-hal berbau teknis saja sekitar dua bulan, sedangkan secara keseluruhan pertunjukan di Kota Tua itu menghabiskan waktu enam bulan.
Kendati demikian, menurut keduanya persiapan dari sisi kreatif tak ada masalah. Justru yang paling repot itu adalah mengurus lokasi. "Seperti di Fatahilah, perizinannya tidak mudah," jelas Sakti. Pemerintah agaknya perlu lebih memberi ruang gerak yang lebih leluasa bagi anak muda di negeri ini untuk berkreasi.(ADO)
adalah citizen journalism, ruang publik untuk menyampaikan berita dan informasi peristiwa yang terjadi di sekitar.
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...
Inilah tempat publik berperan aktif menjadi pewarta berita.
Klik di sini untuk selanjutnya...