Sukses

Apa Penyebab Bintik Biru Bercahaya di Permukaan Bulan?

Liputan6.com, California - NASA menemukan sejumlah bintik biru bercahaya di permukaan bulan belum lama ini. Temuan itu terletak di kawasan kutub bulan.

Bintik biru bercahaya ini sebetulnya merupakan cairan berwarna biru. Ada yang menggenang, tapi ada pula yang mengalir di ruas permukaan. Dari mana asal muasal ini terbentuk?

Dilansir dari Daily Mail, Sabtu (14/1/2017), cairan itu terbentuk dari aktivitas ledakan matahari, yang mana hasil ledakan tersebut berupa percikan dan korosi besar-besaran. Ledakan ini membawa muatan partikel listrik ke luar angkasa, sehingga akhirnya sampai di bulan.

Berbeda dengan bumi, bulan tidak memiliki lapisan atmosfer yang dapat mencegah partikel ledakan matahari tersebut masuk. Karena tak ada atmosfer, partikel yang terdiri dari ion dan elektron ini langsung jatuh ke permukaan bulan.

Setelah jatuh, partikel tersebut menempel di lapisan permukaan dan bagian dalam permukaan bulan. Mengenai partikel di lapisan permukaan, NASA mengklaimnya sebagai partikel ion besar, sedangkan partikel di bagian dalam permukaan merupakan partikel ion berukuran kecil.

Andrew Jordan, astronom University of New Hampshire, mengatakan bahwa cairan terbentuk karena ion yang memiliki muatan positif terbentur dengan elektron yang notabene membawa muatan negatif. Akibatnya, aktivitas tarik menarik terjadi dan menciptakan penguapan.

“Sekitar 10 persen dari partikel itu telah menguap. Terbentuklah cairan biru bercahaya yang jika dilihat dari jauh seperti bintik-bintik kecil merona di permukaan bulan,” kata Jordan.

NASA menilai fenomena ini bukan termasuk langka. Pasalnya, ledakan matahari bahkan bisa terjadi dalam kondisi lebih buruk, seperti halnya peristiwa berhentinya partikel elektrostatik, yang dapat merusak pesawat ruang angkasa.

Cairan biru bercahaya tersebut, sebagaimana dilanjutkan Jordan, akan menghilang seiring waktu berjalan.

“Cairan itu akan menghilang karena menguap dengan perlahan. Fenomena ini tidak permanen. Namun bisa terjadi kembali jika ada peristiwa ledakan matahari dalam waktu dekat,” pungkasnya.

(Jek/Why)

Artikel Selanjutnya
Misteri Badai Salju di Planet Mars Bikin Ilmuwan Penasaran
Artikel Selanjutnya
Bahaya Bila Donald Trump Nekat Tatap Langsung Gerhana Matahari