Sukses

Twitter Digugat Karena Dianggap Beri Dukungan ke ISIS

Liputan6.com, Jakarta - Anggota keluarga dari tiga warga Amerika yang jadi korban serangan ISIS di Belgia dan Prancis menggugat jejaring sosial microblogging Twitter.

Berdasarkan laporan Business Insider yang Tekno Liputan6.com kutip, Rabu (11/1/2017), alasannya karena jejaring sosial besutan Jack Dorsey itu dianggap masih bisa dijangkau oleh kelompok ISIS.

Gugatan tersebut diajukan di distrik New York selatan pada 8 Januari 2017. Penggugat menuduh Twitter punya peran penting dalam pengembangan citra ISIS dan merekrut anggota di seluruh dunia. Bahkan, Twitter dianggap mampu mengintimidasi musuh-musuh ISIS di seluruh dunia.

Pengacara yang mewakili penggugat berpendapat, Twitter telah melanggar Undang-undang Antiterorisme. Penggugat pun meminta ganti rugi dalam jumlah yang akan ditentukan kemudian di pengadilan.

Sebelumnya, gugatan serupa juga menuduh Twitter telah menyediakan dukungan kepada ISIS. Gugatan ini telah dihentikan oleh jaksa pada Agustus 2016. Kini perusahaan juga menghadapi kasus serupa, yakni gugatan dari anggota keluarga korban meninggal pada serangan di klub malam Pulse, Orlando, Florida AS.

Sejauh ini, Twitter banyak mendapatkan kritik atas ketidakmampuannya melindungi platform tersebut dari kelompok terorisme.

Dalam sebuah artikel yang terbit tahun 2014 di media The Atlantic yang berjudul How ISIS Games Twitter, dipaparkan bagaimana kelompok ektrimis menggunakan media sosial untuk merekrut anggota hingga menggalang dana.

Twitter kemudian mulai menghitung seberapa banyak akun pengguna yang terkait dengan ISIS, tepatnya pada musim panas 2015. Twitter juga telah menghapus 125 ribu akun yang diduga memiliki kaitan dengan ISIS.

Selanjutnya, pada Agustus 2016, perusahaan menyebutkan telah menghapus 350 ribu akun yang terkait dengan ISIS sejak pertengahan 2015.

Meski telah memblokir segala yang berkaitan dengan paham ISIS, Twitter dituduh masih memberikan sumber daya dan layanannya ke ISIS. Bahkan, Twitter juga dituduh menolak melakukan identifikasi akun yang memiliki kaitan dengan ISIS.

Alih-alih menyaring akun yang terkait dengan ISIS, Twitter disebut-sebut hanya meninjau akun yang dilaporkan oleh pengguna lainnya. "Sederhananya, ISIS menggunakan Twitter sebagai alat sekaligus senjata untuk terorisme," demikian pendapat penggugat.

Sementara itu, juru bicara Twitter enggan menanggapi kasus ini. 

(Tin/Ysl)