Sukses

Melihat Isi Komponen Nokia 6

Liputan6.com, Jakarta - Belum lama hadir, sudah ada pihak yang membongkar dan melihat isi komponen Nokia 6. Nokia 6 yang pertama kali hadir di Tiongkok terbilang dengan harga yang cukup terjangkau, yakni setara Rp 3,2 juta.

Keputusan produsen untuk menggabungkan hardware dalam perangkat ini tentunya didasarkan pada harga smartphone di pasaran.

Mengutip Wccftech, Rabu (8/2/2017), kebanyakan pembuat ponsel melakukan proses perakitan standar untuk menghemat biaya dan mendapatkan keuntungan maksimal dari konsumen. Bagaimana dengan Nokia 6?

Berikut adalah foto-foto saat smartphone Android Nokia itu dibongkar dan dilihat komponennya.

Jika dilihat dari gambar, kelihatan bahwa perusahaan manufaktur Nokia 6 menggunakan banyak sekrup untuk motherboard-nya. Bagi orang yang melakukan pembongkaran Nokia 6, tentu ini jadi kendala tersendiri.

Melihat jeroan Nokia 6 (Sumber: wccftech)

Meski begitu bagi konsumen, banyaknya sekrup bisa jadi satu nilai tambah. Bahkan, smartphone dengan bodi metal pun memiliki potensi patah lantaran tak ada sekrup di dalamnya untuk memberikan kekuatan pada perangkat.

Melihat jeroan Nokia 6 (Sumber: wccftech)

Tim pembongkar Nokia 6 dari Tiongkok juga mengungkap bagaimana penampakan baterai smartphone tersebut.

1 dari 2 halaman

Posisi Baterai

 

Hasilnya, tim menilai bahwa posisi baterai dalam Nokia 6 dianggap baik. Sebab kebanyakan produsen smartphone saat ini tidak mematuhinya.

Melihat jeroan Nokia 6 (Sumber: wccftech)

Sebagai informasi, baterai dibuat melekat ke flame lain di smartphone, sehingga mudah untuk dibongkar sekaligus diganti.

Sementara, pada beberapa flagship lain, mengeluarkan baterai dari bodi smartphone bisa dibilang cukup sulit dan berisiko tertusuk alat pembongkar. Dengan frame tersebut, baterai dapat melekat dengan baik serta menambah kekuatan ponsel.

Melihat jeroan Nokia 6 (Sumber: wccftech)

Satu-satunya keluhan dari sudut pandang hardware pada saat pembongkaran adalah penggunaan prosesor Snapdragon 430. Namun, bisa dipahami bahwa kemungkinan, hal ini dilakukan untuk menghemat biaya perakitan smartphone.

(Tin/Isk)