Sukses

OPINI: 4 Prediksi Tren Mobile Internet di Indonesia Tahun 2017

Liputan6.com, Jakarta - Jumlah pengguna internet di Indonesia terus bertumbuh secara signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Hal ini dapat kita lihat dari data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) pada 2016. Tercatat ada 132,7 juta pengguna internet, meningkat 50,3 persen dari 2014. Dalam hal kecepatan koneksi internet, Indonesia pun mulai mengejar negara-negara lain. Berdasarkan laporan kuartal III 2016 dari Akamai, rata-rata kecepatan koneksi di Indonesia adalah 6,4 Mbps, lebih cepat dari Tiongkok yang hanya 5,7 Mbps, dan India di 4,1 Mbps.

Berbagai perkembangan terbaru ini telah menciptakan sebuah pengalaman mobile internet terkini bagi para pengguna, serta mendatangkan peluang bisnis luar biasa bagi para pebisnis di Indonesia. Berikut adalah hal-hal yang akan menjadi tren untuk dunia mobile internet di Indonesia selama tahun 2017:

Video dan music streaming mempercepat konsumsi data ponsel

Indonesia kini berada di ambang revolusi data yang belum pernah terjadi dalam sejarah. Dengan pertumbuhan 2,7 persen tahun ke tahun pada pengiriman smartphone, konsumsi data akan bergerak pada kecepatan yang makin cepat. Konten video akan menjadi kontributor terbesar dari seluruh pertumbuhan konsumsi data.

Menurut data statistik Opera, jumlah permintaan kompresi data oleh pengguna Opera Mini naik lebih dari 60 persen pada situs video di Indonesia, dan jumlah pengunjung di situs streaming juga meningkat lebih dari 175 persen dalam 2 tahun terakhir. Melihat bahwa mobile video memberikan kontribusi terbesar bagi penggunaan data, konten eksklusif akan menjadi hal krusial dalam memberikan pengalaman terbaik bagi konsumen mobile phone.

Kehadiran berbagai layanan video streaming seperti iFlix, YouTube, Vidio.com, dan HooQ yang menawarkan berbagai konten lokal unik kepada pengguna mereka, tentunya juga menjadi salah satu faktor pendukung meningkatnya konsumsi data. Music streaming juga mendapat perhatian lebih di Indonesia, dengan kemunculan berbagai aplikasi seperti Spotify, Joox, Musicmatch, Langit Musik, dan Yonder yang juga mendorong pemakaian data mobile internet.

[bacajuga:Baca Juga](2836498 2824422 2678248)

AI akan mendatangkan lebih banyak pengguna pemula mobile web

Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/ AI) yang sering kita jumpai sekarang ini bukan lagi seperti yang kita lihat di berbagai film fiksi ilmiah, yang mana mesin akan mengambil alih dunia. AI sudah ada sejak beberapa dekade lalu dan telah membuktikan keunggulannya dalam melebihi kecerdasan manusia.

AI akan makin sering kita temui di keseharian kita dan akan menciptakan pengalaman lebih menarik untuk konsumen.

Misalnya, untuk menyajikan berita relevan, memberikan prediksi ketersediaan barang, atau melakukan pekerjaan-pekerjaan sulit lainnya yang membutuhkan waktu lama jika dikerjakan manusia.

Kami melihat teknologi ini sangat membantu dalam membawa lebih banyak lagi pengguna pemula mobile web, dengan konten lokal dan relevan. Sebagai contoh, ketika pengguna membuka browser Opera, mereka akan menemukan bagian “Berita” atau “News” yang dikurasi menggunakan AI dan machine learning. Opera mengembangkan AI untuk memahami preferensi berita pengguna berdasarkan artikel-artikel yang mereka baca di Opera.

Chatbot: Penggerak evolusi di mobile internet

Era aplikasi mobile sedang mengalami perubahan sangat besar. Jumlah aplikasi yang dipasang makin menyusut, dan bahkan dari jumlah yang telah menurun tersebut, kebanyakan aplikasi hanya akan dibuka satu kali oleh pengguna. Meskipun 85 persen dari pengguna menghabiskan waktu di smartphone dengan menggunakan berbagai aplikasi, kecenderungannya hanya ada 5 aplikasi teratas yang paling sering digunakan. Selain itu, riset terbaru dari Nuance, 89 persen pengguna lebih memilih menggunakan asisten virtual yang dilengkapi AI untuk mempercepat pencarian informasi dari sebuah perusahaan.

Pada saat yang bersamaan, pemain-pemain teknologi di negara berkembang dihadapkan pada berbagai tantangan dalam membangun serta memelihara aplikasi mereka. Oleh karena itu, makin banyak perusahaan yang membangun chatbot, yang dapat berfungsi di aplikasi pesan populer seperti LINE atau Telegram, yang tentunya sudah memiliki jutaan pengguna aktif.

Chatbot tidak hanya menghadirkan layanan yang dapat diakses melalui ekosistem yang sudah terbentuk seperti layaknya jejaring sosial, tetapi juga membantu pengguna untuk berinteraksi dengan merek favorit mereka dengan cara lebih praktis dan menyenangkan. Sebagai contoh, pengguna dapat mencari, memesan, dan membayar tiket untuk rencana perjalanan yang diatur oleh chatbot tanpa perlu keluar dari aplikasi messenger.

Pertumbuhan pengguna internet juga akan diikuti oleh pertumbuhan online shopper. Meskipun akan lebih mudah bagi perusahaan menambah staf pendukung untuk menangkap peluang bisnis dari pertumbuhan pasar, tentunya akan lebih efisien jika mereka berinvestasi di chatbot.

Penulis adalah Sunil Kamath, Vice President, South Asia and South East Asia, Opera Software

(Why)

Artikel Selanjutnya
Rencana Pembunuhan Ahok Terendus Lewat Telegram
Artikel Selanjutnya
Sinyal 4G LTE Telkomsel Lenyap, Warganet Mencak-Mencak