Sukses

Astragraphia Ajak Korporasi Bertransformasi Digital

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan laporan IDC (International Data Corporation) 2016, industri percetakan dan printing di seluruh dunia terus berkembang pesat hingga 2017, mencapai US$ 9 miliar. Angka tersebut mengalami kenaikan yang signifikan dibanding 2012 yaitu US$ 5,3 miliar.

Saat ini, Industri sudah memasuki era 4.0, yang mana teknologi dan digitalisasi mulai menjadi bagian dalam segala aktivitas. Era Industri 4.0 ini memungkinkan berbagai manufaktur terhubung secara digital, mulai dari 3D printing, robotik, dan beragam jenis teknologi baru yang berhubungan dengan era digital.

Di era serba digital saat ini banyak memberi kemudahan dalam industri percetakan dan printing. IDC juga mengungkapkan bahwa industri penerbitan, percetakan, packaging, dan iklan akan terus bertumbuh sebanyak 12 persen di tahun ini dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk kawasan Asia Pasifik.

Bahkan pada 2020, pertumbuhan industri percetakan dan printing mencapai US$ 47,2 miliar di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, industri penerbitan tumbuh menjadi 14,9 persen. Diikuti dengan pertumbuhan industri packaging yang naik 13,2 persen dan industri periklanan 12,1 persen.

Hal inilah yang mendorong PT. Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) untuk berbagi pengalaman kepada para pelaku bisnis agar segera bertransformasi ke era digital.

AXI sendiri telah menghadirkan layanan digital yang terintegrasi dalam tiga lini bisnis: AXIQoe.com, Xprins Web Services (XWS), dan Layan Gerak Xpress.

“Saat ini kami sudah melakukan transformasi digital melalui 3 produk bisnis AXI. Ke depannya, kami terus melakukan inovasi agar semua bisa digunakan secara online,” ujar Sahat Sihombing, Presiden Direktur PT Astragraphia Xprins Indonesia (AXI) melalui keterangan resminya, Kamis (20/4/2017) di Jakarta.

Sahat menambahkan, “Perubahan ke arah digital akan segera dihadapi suka tidak suka dan siap tidak siap oleh para pelaku bisnis. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan itu semua.”

“Kami memberikan solusi kepada manufaktur menuju Industri 4.0 yang akan terkoneksi melalui online secara keseluruhan. Tak hanya dari segi bisnis namun juga proses manufakturing itu sendiri,” tambah Sahat.

Era Industri 4.0 ini akan mempengaruhi bisnis para pelaku usaha, khususnya dari segi penjualan. Dengan transformasi digital akan sangat memudahkan para pelaku bisnis dalam mengembangkan usahanya. Apabila semua infrastruktur IT sudah terpenuhi, termasuk di daerah terpencil, maka transformasi digital akan segera terwujud.

Apalagi pemerintah menargetkan Indonesia akan menjadi negara digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020. Secara global, jumlah penduduk di seluruh dunia mencapai 7,395 miliar dengan jumlah pengguna internet berjumlah 3,419 miliar.

(Isk/Why)

Artikel Selanjutnya
Bekraf: Pengembangan Industri Kreatif Perlu Jaringan Internet
Artikel Selanjutnya
Iruna eLogistics Siap Dorong Industri e-Commerce di Indonesia