Sukses

Aplikasi Yik Yak Tutup Usia

Liputan6.com, Atlanta - Usai sudah kiprah Yik Yak di ranah teknologi. Aplikasi yang memungkinkan pengguna mengunggah konten anonim (tak menyebutkan identitas) itu akan segera ditutup dalam waktu dekat.

Yang membuat miris, Yik Yak awalnya memiliki pangsa pasar yang cukup besar di negara asalnya, Amerika Serikat (AS). Aplikasi tersebut diklaim begitu populer oleh pengguna yang berasal dari kalangan mahasiswa. Namun, seiring berkembangnya ekspansi Snapchat, eksistensi Yik Yak mulai tergerus.

CEO Yik Yak Tyler Droll dan COO Yik Yak Brook Buffington, menulis surat terakhir kepada seluruh pengguna Yik Yak di dalam blog resminya. Droll mengutarakan, pihaknya beruntung bisa memiliki pengguna yang bersemangat di Yik Yak.

Baik Droll dan Buffington tidak mengungkap secara pasti alasan mengapa Yik Yak harus segera ditutup. Yang pasti, kondisi finansial startup ini diketahui tidak berjalan dengan mulus selama beberapa bulan terakhir.

Pada Desember 2015, startup yang bermarkas di Atlanta, Georgia, AS itu melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) lantaran pertumbuhan yang terus menurun.

Aplikasi yang berjalan kurang lebih tiga tahun itu sebelumnya meraih pendanaan sebesar US$ 73,5 juta (sekitar Rp 980 miliar) dari investor papan atas. Yik Yak, awalnya dianggap bakal jadi pesaing Facebook. Sayang, sifat aplikasi yang mengusung konsep anonim justru membuatnya sulit berkembang.

Adapun karyawan mendapatkan informasi PHK pada Kamis pagi, 8 Desember 2016 waktu setempat. Yik Yak sendiri memiliki 50 karyawan.

Akibat PHK ini, karyawan yang tersisa sebanyak 20 orang. Berdasarkan keterangan seorang sumber, mereka yang terdampak pemutusan kerja adalah dari divisi komunitas, marketing, desain, dan produk.

 

1 dari 2 halaman

Sempat Bersinar, Lalu Meredup

Yik Yak memiliki konsep update layaknya majalah sekolah. Siapa pun bisa memberikan komentar tentang sekolah atau soal apa pun secara anonim.

Sifat anonim aplikasi ini membuat Yik Yak jadi bertumbuh. Bahkan, setahun setelah peluncurannya, aplikasi ini masuk dalam daftar 10 aplikasi paling sering diunduh.

Setelah mendengar gaung mengenai Yik Yak, mahasiswa maupun pelajar di seluruh dunia mulai mengunduhnya. Kemudian, pada November 2014, investor menaksir nilai startup ini mencapai US$ 400 juta atau sekitar Rp 5,3 triliun.

Sayangnya, sifat anonim itu juga yang membuat Yik Yak jadi tempat tumbuhnya kegiatan perundungan (bullying) secara online. Banyak pengguna mengeluhkan hal ini. Bahkan tak sedikit sekolah yang melarang murid menggunakan aplikasi ini atau memblokirnya.

Meksi Yik Yak telah membuat filter untuk menurunkan tingkat bullying, pertumbuhan aplikasi ini terus menurun. Jumlah unduhan kian menurun, dan tak sebanyak di awal kemunculannya.

(Jek/Isk)

Artikel Selanjutnya
20 Aplikasi Android yang Rakus Kuota Internet
Artikel Selanjutnya
Daftar Aplikasi yang Paling Menguras Baterai pada 2017