Sukses

Cara Snapchat Cegah Karyawan Bocorkan Rahasia Perusahaan

Liputan6.com, Jakarta - Dalam beberapa bulan terakhir, Snap Inc., perusahaan induk Snapchat  memang tengah mengubah citra perusahaan. Kini, perusahaan itu dikenal sebagai salah satu perusahaan teknologi dengan tingkat kerahasiaan paling tinggi.

Hal itu wajar mengingat sejumlah fitur utama Snapchat kerap disontek perusahaan lain, salah satunya Facebook. Untuk mencegah hal tersebut, Snapchat ternyata menerapkan peraturan yang ketat bagi para karyawannya.

Salah satunya adalah surat pernyataan yang harus ditandatangani oleh karyawan saat bergabung. Perusahaan juga dilaporkan membatasi akses untuk fitur baru yang tengah diuji coba oleh tim internal.

Seperti dikutip dari Business Insider, Selasa (8/8/2017), setiap fitur anyar yang sedang diuji coba oleh tim internal selalu tampil dengan pesan peringatan. Inti dari pesan tersebut adalah perintah untuk tak berbagi informasi dengan orang di luar perusahaan. 

Karyawan juga diminta untuk tak mengunggah apa pun terkait fitur anyar tersebut lewat akunnya. Jumlah karyawan yang dapat mengakses pun dibuat terbatas, hanya 2.500 pekerja dari keseluruhan. 

Langkah ini disebut merupakan upaya CEO Snap Inc, Evan Spiegel, mencegah kebocoran fitur baru ke publik sebelum diluncurkan. Terlebih, Spiegel sempat dikabarkan begitu kecewa saat fitur Snap Maps bocor sebelum rilis.

Tak hanya itu, Snap Inc juga membekali tim pengembangnya dengan penggawa anyar. Lewat perekrutan terhadap tim utama Strong.Codes, Snap Inc disebut-sebut ingin mencegah perusahaan lain mencuri atau meniru fitur yang dimiliki Snapchat.

Sebagai informasi, Strong.Codes dikenal sangat ahli dalam perlindungan melawan reverse engineering. Untuk diketahui, reverse engineering merujuk pada proses pencarian teknologi yang bekerja di balik sebuah sistem atau perangkat tertentu.

Meski fiturnya kerap disontek, Snapchat ternyata masih memiliki basis pengguna setia. Berdasarkan laporan baru perusahaan riset App Annie, 35 persen pengguna harian Snapchat di Amerika Serikat (AS) tidak mengakses media sosial lain.

(Dam/Ysl)

Tonton Video Menarik Berikut Ini : 

Artikel Selanjutnya
Cegah Phishing, Google Tambah Keamanan Ekstra di Gmail iOS 
Artikel Selanjutnya
ESET: Serangan pada iPhone dan Mac Bukan Ransomware