Sukses

Wajib Tahu, Ini 5 Mitos Baterai Smartphone

Liputan6.com, Jakarta - Tak sedikit pengguna smartphone sampai sekarang bertanya-tanya bagaimana cara agar baterai perangkatnya awet alias punya umur panjang. Wajar saja, baterai dianggap sebagai 'jantung' smartphone.

Baterai sendiri adalah salah satu dari banyaknya masalah yang tak kunjung usai bagi pemilik smartphone. Banyak dari kita yang memiliki handset, bisa dipakai hingga bertahun-tahun. Sayang, baterai smartphone kebanyakan cuma bisa bertahan paling sebentar dalam hitungan bulan.

Nah, lithium-ion adalah jenis baterai yang diadopsi sejumlah vendor smartphone untuk memperkuat perangkatnya hingga lebih dari dua dekade, dan belum berubah sejak Sony mulai memproduksinya pada 1991.

Kini, sudah banyak ilmuwan berusaha untuk mencari cara yang jauh lebih efektif ketimbang lithium-ion. Akan tetapi saat ini belum ada jenis baterai yang sepenuhnya menggantikan dominasi lithium-ion.

Bicara soal teknologi penopang daya tersebut, berikut ini adalah lima mitos yang perlu diketahui tentang baterai smartphone yang perlu kamu ketahui.

1 dari 4 halaman

Apa Perlu Isi Daya Baterai Saat Pertama Kali Beli Ponsel?

Sejumlah penjual banyak menyarankan agar pengguna mengisi baterai pada smartphone yang baru saja dibeli hingga penuh. Bahkan bila perlu, smartphone harus di-charge hingga berjam-jam sebelum digunakan. Nah, apakah mitos yang satu ini benar?

Jawabannya adalah tidak. Karena, jenis baterai sebelumnya seperti nikel kadmium memiliki 'efek memori', yang berarti baterai akan mempertahankan kapasitas tertentu berdasarkan bagaimana mereka telah diisi dan dikosongkan.

Dengan baterai jenis lithium-ion yang lebih modern, kebanyakan kalangan setuju tidak ada efek tersebut dan baterai ini pun lebih handal.

Kamu pun tidak perlu mengkalibrasi smartphone dengan menguji ketahanan baterai. Apple dan vendor smartphone lainnya juga tidak lagi merekomendasikan hal ini.

2 dari 4 halaman

Apa Benar, Daya Baterai Ponsel Menurun Seiring Waktu?

Jawabannya ya. Kamu sebetulnya tidak bisa mempertahankan daya baterai yang digunakan dari waktu ke waktu. Baterai lithium-ion memang dirancang untuk menahan sejumlah siklus yang menguras penuh baterai. Jadi, semakin sering di-charge, daya baterai pasti akan semakin terkuras.

Apple pernah menuturkan, "Kamu mungkin telah menggunakan 75 persen dari baterai selama satu hari, kemudian mengisi ulang sepenuhnya semalam. Jika kamu menggunakan 25 persen pada hari berikutnya, baterai akan kosong 100 persen, dan selama dua hari akan menambahkan satu siklus pengisian."

Baterai ponsel rata-rata memiliki antara 300 dan 500 siklus sebelum mencapai 70 persen dari kapasitas aslinya.

Apa Benar, Isi Daya Terlalu Lama Bisa Rusak Baterai?

Tidak juga. Justru, banyak yang beranggapan mengisi daya baterai smartphone terlalu lama dapat membuat kondisi baterai memburuk. Sistem baterai modern bisa mengurangi tegangan listrik, sehingga akan menyesuaikan kebutuhan daya yang dibutuhkan.

Kecuali, smartphone dalam kondisi overheat. Panas menyebabkan kinerja baterai lithium-ion berkurang. Suhu panas yang lebih dari 30 derajat Celcius dapat merusak baterai.

Cobalah untuk menjaga smartphone kamu relatif dingin saat pengisian, dengan menempatkannya di ruang yang sejuk atau jauh dari paparan cahaya matahari.

Tidak juga. Pengguna bisa mengisi baterai smartphone sesuai dengan kebutuhan. Mengutip laman Telegraph, untuk diketahui siklus pengisian baterai yang lama sebenarnya lebih buruk daripada yang sebentar.

Kesimpulannya adalah, menggunakan smartphone dengan baterai minimum 50 persen, kemudian melakukan pengisian lagi dan memakainya hingga di bawah 50 persen, lebih baik daripada benar-benar kosong.

Apakah Mematikan WiFi Bisa Mematikan Baterai?

Wi-Fi dan Bluetooth memiliki karakter berbeda dalam 'menguras' daya baterai. Mematikan dua konektivitas tersebut memang bisa membuat baterai lebih hemat, tetapi tak terlalu berpengaruh.

Saat sinyal jaringan telekomunikasi tidak stabil dan smartphone bekerja mencari sinyal, bagaimanapun sangat menguras daya baterai. Nah, kamu dapat mengaktifkan mode airplane jika Anda tidak memerlukan sinyal ponsel.

Jika di sekitar Anda ada hotspot WiFi, coba hubungkanlah. Menggunakan jaringan 4G atau 3G malah menguras baterai jauh lebih cepat daripada WiFi.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

3 dari 4 halaman

Apa Benar, Harus Tunggu Baterai Kosong Baru Bisa Dicas?

Artikel Selanjutnya
4 Hal yang Harus Dihindari Agar Baterai Smartphone Awet
Artikel Selanjutnya
Tonton Perjuangan Indonesia dengan Sinyal Kuat