Sukses

Arus Digitalisasi di Industri Tekstil Tak Terbendung

Liputan6.com, Bali - Kementrian Perindustrian memperkirakan ekspor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) akan tumbuh rata-rata 11 persen per tahun. Untuk 2018 dipatok sebesar US$ 13,5 miliar dan pada 2017 sebesar US$ 12,09 miliar.

Di sisi tenaga kerja, pada 2018 diharapkan sektor ini menyerap sekitar 2,95 juta orang dan hingga akhir tahun ini sebanyak 2,73 juta orang.

Berdasarkan data United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), saat ini Indonesia menduduki peringkat ke-9 di dunia untuk Manufacturing Value Added. Posisi ini sejajar dengan Brazil dan Inggris, bahkan lebih tinggi dari Rusia, Australia, dan negara ASEAN lainnya.

Berkaitan dengan hal tersebut, CEO and Co-Founder 88Spares.com, Hartmut Molzhan mengungkap arus digitalisasi di industri TPT tak bisa terbendung layaknya yang terjadi di sektor lainnya.

"Digitalisasi itu datang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Industri tekstil nasional yang mengambil pangsa pasar internasional dua persen ini tak bisa menolak kehadiran digitalisasi yang sudah menjadi fenomena global," ujarnya saat menjadi salah satu pembicara di ajang The International Textile Manufacturers Federation (ITMF) di Nusa Dua, Bali, Sabtu (16/9/2017).

Menurutnya, ada beberapa dampak dari digitalisasi yang terjadi pada sebuah industri yakni munculnya produk beragam, inovasi baru, dan terakhir model bisnis yang berubah.

"Kami sudah lihat di industri penerbitan dengan Amazon dalam menjual buku yang mengubah semuanya. Ke depan kami prediksi bisa terjadi di industri tekstil di mana mass customization itu tak bisa dielakkan," kata Molzhan melalui keterangan tertulisnya.

Ia menuturkan, 88spares.com dengan platform B2B marketplace ingin mendorong digitalisasi itu lebih cepat masuk ke industri tekstil nasional agar pelaku usaha Indonesia menjadi kompetitif di masa depan.

"Kami ingin menyambungkan pabrik, vendor, dan industri kecil menengah (IKM) agar bisa berbisnis secara efisien, cepat, dan murah. Saat ini sudah saatnya pedagang dan pembeli melakukan perdagangan dengan cara e-Commerce yang tentunya bisa lebih efektif dan efisien dari sisi biaya dan waktu," tambahnya.

Tekstil dan produk tekstil memang merupakan komoditas yang tidak akan pernah berhenti sehingga perdagangannya dibutuhkan dan pada akhirnya muncul pedagang baru serta menjadikan persaingan kian ketat.

Diakuinya, saat ini perdagangan suku cadang mesin industri tekstil dan produk tekstil masih didominasi oleh pedagang offline, yang banyak melibatkan pihak ketiga dalam proses transaksi sehingga harga akan lebih mahal.

"Kami fokus pada dua hal. Pertama melayani kebutuhan pabrik kain untuk suku cadang. Kedua membuka akses bagi pabrik atau IKM untuk berinteraksi agar bisa mendapatkan barang murah yang ujungnya produk tekstil Indonesia itu kompetitif untuk ekspor," pungkasnya.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengakui perdagangan dunia sedang menuju ke arah perubahan di mana konsumen memegang kontrol secara penuh. Tetapi, itu semua tidak akan meninggalkan basis produksi.

"Pemain yang bermain di produksi harus dapat menyesuaikan dengan permintaan dari perubahan tersebut seperti less inventory, speed to the market, dan tentunya harus diikuti oleh supply chain yang terintegrasi," tuturnya.

(Isk/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Artikel Selanjutnya
Kehadiran Meikarta Bisa Mengurangi Beban Ibukota Jakarta
Artikel Selanjutnya
Sepi Tender, Jumlah Pekerja Industri Galangan Kapal Batam Susut