Sukses

Terungkap, Bukti Asal-usul Terbentuknya Bumi Ada di Planet Mars

Liputan6.com, California - Tahukah kamu, salah satu bukti asal-usul Bumi ternyata ada di dalam permukaan Planet Mars? Baru-baru ini NASA mengumumkan penemuan terbaru yang mereka dapatkan di dalam permukaan Planet Merah.

Badan Antariksa Amerika Serikat ini menemukan deposit hidrothermal yang mengindikasikan tentang asal-usul terbentuknya Bumi.

Deposit ditemukan instrumen pencitraan Mars Reconnaissance Orbiter (MRO) milik NASA di wilayah cekungan Mars bagian selatan. Ia diyakini sebagai endapan yang terbentuk dari material vulkanik yang mirip dari kerak Bumi.

Ilmuwan NASA dari Johnson Space Center Paul Niles mengatakan, jika pihaknya tidak menemukan deposit tersebut, mungkin mereka tidak akan yakin material ini sama dengan yang ada di Bumi.

"Deposit yang ada di Mars memiliki material yang sama saat Bumi terbentuk pertama kali. Begitu pula aktivitas vulkanik Mars itu mungkin sama dengan kondisi yang ada di Bumi saat awal mula kehidupan terbentuk" ujar Niles sebagaimana dikutip Science Daily pada Kamis (12/10/2017).

Memang, Mars tidak memiliki genangan air atau aktivitas gunung berapi seperti Bumi. Setidaknya, peneliti yakin usia deposit tersebut berkisar 3,7 miliar tahun.

"Kami bisa mendeteksi karakter deposit hidrothermal dengan mudah karena berada di bawah laut. Sama halnya dengan Bumi, kami bisa mengetahui kapan dan di mana material tersebut terbentuk tanpa sinar matahari," sambung Niles.

 

1 dari 2 halaman

Lingkungan 'Laut' Mars Mirip Bumi

Niles berujar, penemuan deposit hidrothermal tersebut membuat para ilmuwan meneliti lingkungan laut yang ada di bawah planet. Menariknya, ia juga berpendapat lingkungan laut Mars mirip dengan Bumi.

"Kami menemukan campuran mineral dari data spektrometer MRO, seperti serpentine dan karbonat. Tekstur lapisan bebatuan yang ada di lautan Mars juga memiliki bebatuan yang tebal," terang Niles. Dengan demikian, Mars memiliki sejumlah lingkungan 'basah' seperti laut, danau, delta, dan sumber air panas.

NASA sendiri telah menemukan bukti air di Mars pada 2015 lalu. Waktu itu, MRO berhasil mengidentifikasi bukti mineral terhidrasi yang disebut perklorat, yang telah membentuk garis-garis di lereng di permukaan Mars.

"Hal yang paling menarik tentang pengumuman ini adalah bahwa kehidupan di Mars memang memungkinkan," kata salah seorang perwakilan NASA, John Grunsfeld pada konferensi pers, seperti dikutip dari CNBC.

Beberapa perklorat dapat menjaga air dari pembekuan, bahkan pada suhu sedingin -94 derajat Fahrenheit. Perklorat itu membentuk garis-garis di lereng Mars selama musim hangat planet ketika suhu naik di atas -10 derajat Fahrenheit. Garis-garis itu disebut Recurring Slope Lineae (RSL), yang kemudian menghilang selama musim dingin.

"Sesuatu menghidrasi garam-garam ini, dan tampaknya berubah menjadi garis-garis tersebut, yang datang dan pergi sesuai dengan musim," ungkap Lujendra Ojha, salah seorang peneliti pada proyek tersebut dalam sebuah pernyataan.

Ini berarti, lanjut Ojha, air di Mars adalah asin--bukan murni. Hal ini masuk akal karena garam menurunkan titik beku air. Bahkan jika RSL sedikit di bawah tanah, di mana suhunya lebih dingin dari suhu permukaan, garam akan menjaga air dalam bentuk cair dan memungkinkan untuk mengalir menuruni lereng Mars.

"Dalam banyak hal Mars memang mirip dengan Bumi," kata direktur ilmu planet NASA, Jim Green.

Planet tersebut memiliki suasana yang luas, dan sebagian ditutupi setidaknya oleh satu samudra besar. Samudra itu kehilangan semua air permukaan terhadap perubahan dramatis dalam iklimnya. Namun, Mars tampaknya mempertahankan beberapa hal yang menjaga kelembaban.

(Jek/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Saksikan Live Streaming INSPIRATO

Tutup Video
Artikel Selanjutnya
Asteroid Terbesar yang Pernah Terdeteksi Melintas Dekat Bumi
Artikel Selanjutnya
Astronom Tangkap 15 Sinyal Misterius, Alien?