Sukses

Negara Ini Larang Gamer Bermain Gim PlayerUnknown's Battleground

Liputan6.com, Jakarta - Gim terpopuler di dunia saat ini dikabarkan tidak akan bisa dimainkan di negara Tiongkok. Berdasarkan posting-an China Audio-Video and Digital Publishing Association, gim PlayerUnknown's Battleground (PUBG) dianggap terlalu sadis dan sarat kekerasan.

Lebih lanjut, asosiasi ini menilai gameplay gim PUBG yang tak ubahnya pertarungan gladiator dan dianggap menyimpang dari nilai-nilai sosialisme, diklaim berbahaya bagi gamer muda di Tiongkok.

Dikutip dari laman Bloomberg, Selasa (31/10/2017), pernyataan resmi ini muncul setelah asosiasi industri itu berkonsultasi dengan State Administration of Press, Publication, Radio, Film and Television (SAPPRFT) baru-baru ini.

Sekadar informasi, SAPPRFT adalah regulator yang 'tugasnya' melisensikan dan menyensor hampir semua konten di Tiongkok. Sebelumnya, regulator ini juga sempat melarang serial TV "BoJack Horseman" dan The Bing Bang Theory"; dan remake film "Ghostbuster" tahun lalu tayang di negara Tirai Bambu tersebut.

Jika diselisik, pelarangan ini bertepatan dengan semakin meningkatnya minat gamer dan perusahaan di Tiongkok terhadap gim PUBG ini.

Terjual hingga lebih dari 13 juta kopi pada tahun ini, gim buatan pengembang asal Korea Selatan, Bluehole Inc, tersebut kabarnya sempat ditawar oleh Tencent Holding Ltd bulan lalu.

PUBG merupakan gim di platform PC Windows dan Xbox One yang terinspirasi oleh film Jepang yang berjudul "Battle Royale". Di dalam gim ini, kamu dan 99 gamers lainnya harus berjuang agar menjadi satu-satunya pemain yang bertahan hidup di dalam gim.

Hingga saat ini, badan pengawas itu mengatakan, pihaknya menentang segala macam gim dengan gameplay Battle Royale untuk dirilis di Tiongkok. Tak hanya itu, mereka juga meminta agar pengembang gim lokal untuk tidak membuat gim serupa.

Diketahui, Tiongkok adalah salah satu pasar gim terbesar di dunia. Menurut laporan Newzoo, pendapatan industri gim di Tiongkok diperkirakan mencapai US$ 27,5 miliar pada tahun ini, sedikit di atas Amerika Serikat dengan kisaran US$ 25 miliar.

(Ysl/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Kesan Pertama Menjajal Pro Evolution Soccer 2018
Artikel Selanjutnya
Luis Milla: Terima Kasih Suporter Indonesia