Sukses

Mantan Bos Apple Ini Tak Beli iPhone X, Apa Alasannya?

Liputan6.com, Nusa Dua - Euforia smartphone terbaru Apple, iPhone X, ternyata tak "dirayakan" Guy Kawasaki. Pria yang sempat menjabat Chief Evangelist di Apple tersebut mengaku tidak ikut membeli iPhone X, apalagi ikut mengantre seperti yang sudah dilakukan banyak Apple Fanboy pada pekan ini.

"Tidak, saya tidak punya waktu. Jujur, sekarang saya masih pakai iPhone 7. Meski ada program trade-in juga di sana (Amerika Serikat) saya tetap tidak punya waktu," ujar Guy kepada Tekno Liputan6.com pada AdAsia 2017 yang dihelat di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (8/11/2017).

"Lagi pula, waktu penjualan perdana iPhone X bertepatan menjelang AdAsia 2017. Kan saya juga harus siap-siap ke Bali," sambungnya tertawa.

Saat ditanyakan soal konsep iPhone X yang diklaim inovatif, pria lulusan Stanford University tersebut mengaku belum tentu tertarik. Pasalnya, beberapa fitur teranyar iPhone X ia nilai sebetulnya sudah diadopsi smartphone lain.

"Saya tidak bisa pastikan apa saya benar-benar terkesan dengan inovasi iPhone X. Soal teknologi Wireless Charging dan FaceID (pemindaian wajah) mungkin sebelumnya (iPhone X) sudah ada yang duluan mengadopsi. Motorola, contohnya dengan Moto Z punya mod khusus Wireless Charging," ungkap Guy.

iPhone X sendiri memang merupakan smartphone premium Apple yang dijual dengan harga paling tinggi. Selain mengusung Wireless Charging dan FaceID, iPhone X juga menjadi iPhone pertama yang mengadopsi konsep layar bezeless.

Di Indonesia sendiri, iPhone X belum dijual resmi. Namun, berdasarkan pantauan Tekno Liputan6.com, iPhone X sudah dijual di sejumlah e-Commerce. Salah satunya ditemukan di Tokopedia. Si penjual menawarkan dua varian iPhone X dalam balutan warna silver atau space gray.

Untuk varian ROM 64GB, iPhone X dibanderol dengan harga Rp 26,2 juta, sedangkan untuk varian ROM 256GB dibanderol Rp 28,2 juta.

1 dari 2 halaman

Guy Kawasaki dan Steve Jobs

Guy Kawasaki menjabat sebagai Chief Evangelist di Apple pada periode 1983-1987. Saat itu, ia bekerja langsung dengan mendiang Steve Jobs yang merupakan pendiri Apple.

Jabatan Guy bertugas untuk membangun citra sekaligus menyebarkan informasi seputar produk sehingga dapat menjadi satu standar baru. Ia juga mempromosikan Macintosh untuk para developer. Pada 1987, Guy memilih keluar dari perusahaan tersebut setelah Macintosh mulai mendapatkan banyak software.

Beberapa tahun kemudian, Guy mendirikan perusahaan software bernama Fog City. Namun, pada 1995 ia memutuskan kembali ke Apple. Kali ini, pekerjaannya sedikit lebih berat karena perusahaan itu sedang berada di ujung tanduk.

Karenanya, ia bertugas untuk memperhatikan dan membangkitkan kembali citra Macintosh di kalangan pengguna. Hanya dua tahun berselang, ia kembali meninggalkan Apple untuk memulai sebuah angel investor bernama Garage.com.

Kini, Guy mendirikan Canva, layanan asal Australia yang membantu pengguna membuat hasil karya desain dengan lebih mudah.

AdAsia 2017 sendiri berlangsung mulai hari ini, Rabu (8/11/2017) dan akan berakhir pada Jumat (10/11/2017). Kongres periklanan terbesar se-Asia ini diadakan di Bali Nusa Dua Convention Center, menghadirkan lebih dari 30 pembicara, 1.000 delegasi, dan enam acara networking khusus.

Informasi mengenai AdAsia 2017, yang salah satu sponsornya adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTEK), juga bisa diperoleh dengan cara mem-follow BBM Channel AdAsia 2017 di aplikasi BBM.

(Jek/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Artikel Selanjutnya
Catat, Ini Jadwal Peluncuran iPhone 8
Artikel Selanjutnya
Penjualan iPhone 8 Tak Akan Sesuai Ekspektasi Investor?