Sukses

Di Masa Depan, Chatbot Bisa Jadi Pasangan hingga Customer Service

Liputan6.com, Nusa Dua - Hari kedua AdAsia 2017 dibuka dengan sesi "Majority Report: Future of Media 2030". Menariknya, sesi yang dibawakan perusahaan teknologi Kaleidoko ini, mengupas lebih dalam soal teknologi kecerdasan buatan (AI, Artificial Intelligence) dan peran chatbot dalam membantu manusia di masa depan.

Disampaikan Dean Donaldson, Digital Futurologist Kaleidoko, chatbot adalah salah satu inovasi asisten virtual dalam pesan instan dengan basis kecerdasan buatan. Ia memegang porsi besar dalam berinteraksi dengan manusia.

Pria lulusan Bournemoth University tersebut mengatakan, chatbot selama dua tahun terakhir terus berkembang. Di Indonesia sendiri, sudah banyak web yang memanfaatkan chatbot sebagai bisnis modelnya, sebut saja Kata.ai dan Bang Joni.

Merujuk data presentasi yang disampaikan lembaga riset Gartner, Donaldson mengungkap, selama tiga tahun ke depan, chatbot akan berekspansi ke banyak platform chat. Ini artinya, semakin banyak pengguna akan memakai chatbot sebagai 'asisten' untuk membantu kehidupan sehari-harinya.

"Mungkin sekarang peran chatbot belum besar. Tapi kita mulai (chatbot) dari yang kecil dulu. Ia bisa membantu mengatur jadwal, entah itu penerbangan, liburan atau meeting. Chatbot juga bisa menjadi teman berbincang. Dan kira-kira pada 2020, masyarakat mungkin bisa saja berbicara lebih banyak kepada chatbot ketimbang pasangannya. Bisa jadi posisi si pasangan malah tergantikan chatbot," ujar Donaldson.

 

1 dari 2 halaman

Chatbot Mengurangi Lahan Pekerjaan?

Pada kesempatan yang sama, Jonathan Tavvs selaku Product, Content, Positioning & Technology Kaleidoko juga mengungkap peran chatbot tak hanya akan berguna bagi keseharian manusia, tetapi juga mampu diimplementasikan pada industri pekerjaan.

"Chatbot itu adalah salah satu dari kategori pengembangan kecerdasan buatan yang akan menciptakan disrupsi besar di banyak lahan bisnis. Ia akan menghubungkan brand dan konsumen lewat platform, bisa dibilang sebagai customer service digital," ujar Tavvs.

Tavvs menerangkan, chatbot berpotensi--lewat teknologi pemrosesan bahasa alami--untuk membuat pengalaman pelanggan lebih mudah, cepat, dan memuaskan.

"Ia memiliki akses untuk menyediakan pengetahuan ke pelanggan dan mampu merespons dengan pintar. Tapi untuk ke fase tersebut, pembesut chatbot harus mengembangkan 'navigator' khusus," paparnya.

Lantas, apa memang peran chatbot bakal menggantikan pekerjaan manusia ke depannya? Tavvs menjawab bisa jadi. Chatbot mungkin bisa akan mengurangi lahan pekerjaan, tetapi bukan berarti produktivitas bisa menurun drastis.

"Kita bicara soal otomatisasi. Ambil contoh industri pabrik membutuhkan chatbot, para pekerja pabrik tak perlu dipangkas, mereka masih bisa bekerja manual. Karena dengan hadirnya chatbot, beban pekerjaan mereka bisa berkurang. Chatbot mungkin bisa mengatur jadwal, memberikan reminder atau melakukan hal-hal bersifat birokratis," imbuh Tavvs.

Karena itu, Tavvs menganggap perusahaan dapat mengalokasikan karyawan untuk melakukan skala prioritas lain. Dengan chatbot, perusahaan pun dapat memperluas operasi pelayanan pelanggan secara global dengan biaya rendah.

(Jek/Ysl)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
Moms, Mau Resign dan Jadi Pengusaha? Miliki 6 Hal Ini Dulu
Artikel Selanjutnya
HEADLINE: Satu Kantor Sejuta Peluang di Co-Working Space