Sukses

Drone Berhasil Selamatkan 2 Korban Terbawa Ombak di Australia

Liputan6.com, Jakarta - Aksi penyelamatan terhadap dua korban terbawa ombak yang dilakukan oleh drone disebut-sebut mencetak sejarah baru. Drone tersebut memang digunakan dalam program lifeguard oleh pemerintah New South Wales, Australia.

Kemudian, baru-baru ini sebuah panggilan datang dan meminta bantuan tim lifeguard untuk menyelamatkan dua orang korban yang terbawa ombak di laut.

Supervisor tim lifeguard Jai Sheridan kemudian menerbangkan drone The Little Ripper yang akhirnya menemukan lokasi kedua korban dalam waktu beberapa menit.

"Drone tersebut membuktikan dirinya hari ini. Ini adalah peralatan penyelamatan yang sangat efisien," kata Sheridan sebagaimana dikutip dari NSW, Minggu (21/1/2018).

Sheridan mengatakan, ia berhasil menerbangkan drone dan menemukan lokasi kedua korban.

"Saya juga berhasil menjatuhkan pelampung penyelamat hanya dalam waktu satu atau dua menit. Sementara biasanya, tim penyelamat butuh waktu beberapa menit lebih lama untuk menjangkau korban," katanya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Westpack Little Ripper Eddie Bennet mengatakan, teknik penyelamatan dengan drone memperlihatkan bagaimana teknologi bisa membuat upaya penyelamatan kondisi darurat lebih cepat.

1 dari 3 halaman

Investasi Mahal

Pada Desember 2017, pemerintah New South Wales mengumumkan, pihaknya menginvestasikan US$ 430 ribu atau Rp 5,7 miliar untuk teknologi drone yang dipakai di North Coast, New South Wales.

Bahkan, Deputy Premier and Minister for Regional NSW John Barilaro mengatakan, investasi mahal itu tidak sia-sia.

"Berkat investasi pada teknologi drone, setidaknya sudah dua orang yang berhasil diselamatkan. Sebelumnya tidak ada sebuah drone yang mampu membawa pelampung untuk menyelamatkan orang seperti ini," katanya.

2 dari 3 halaman

Drone Angkut Muatan 226 Kg

Pembesut pesawat terbang asal Amerika Serikat Boeing mengumumkan kehadiran sebuah drone raksasa yang mampu mengangkut muatan seberat 226,7 kilogram (kg).

Mengutip laporan The Verge, Jumat (12/1/2018), drone raksasa ini disebut sebagai unmanned electric vertical-take off-and-landing (eVTOL) cargo air vehicle (CAV) atau kendaraan kargo udara nirawak elektrik lepas landas vertikal.

Boeing menyebut, drone raksasa ini nantinya bisa menjadi pionir untuk pesawat terbang nirawak di masa depan.

Hebatnya, engineer di Boeing hanya butuh waktu tiga bulan untuk merancang dan mengembangkan drone raksasa ini. Bahkan, pesawat nirawak ini telah berhasil melewati tahap pengujian terbang di laboratorium penelitian Boeing di Missouri, Amerika Serikat.

Chief Technology Officer Boeing, Greg Hyslop, dalam pernyataannya mengatakan, kendaraan kargo udara ini merupakan langkah besar Boeing dalam strategi eVTOL.

"Kami memiliki kesempatan untuk benar-benar mengubah perjalanan di udara dan kami akan mengingat hari ini sebagai langkah besar dalam perjalanan tersebut," kata Hyslop.

Prototipe CAV ini ditenagai oleh sistem tenaga elektrik dengan delapan rotor yang memungkinkannya melakukan penerbangan secara vertikal. Secara ukuran, drone raksasa ini memiliki panjang 4,57 meter, lebar 5,49 meter, tinggi 1,22 meter, dan bobot 339 kg.

Sayangnya, Boeing tak memberikan rincian tentang baterai yang digunakan atau berapa lama kemampuan terbang drone ini.

(Tin/Cas)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Artikel Selanjutnya
KRI Teluk Bintuni 520 Gagalkan Upaya Perompakan di Selat Berhala
Artikel Selanjutnya
Buaya Tepikan Jasad Pemancing yang Tenggelam ke Arah Basarnas