Sukses

Hacker Menjaili Situs Pemerintah AS dan Inggris untuk Tambang Bitcoin

Liputan6.com, Jakarta - Seperti diwartakan sebelumnya, sejumlah laman populer sempat terinfeksi malware dan digunakan untuk menambang bitcoin serta mata uang virtual lainnya. Bahkan, si pembuat malware (hacker) kini juga menginfeksi situs-situs milik pemerintah.

Terbaru, mengutip laporan Ubergizmo, Selasa (13/2/2018), sejumlah situs pemerintah di Amerika Serikat dan Inggris baru-baru ini terinfeksi oleh malware. Malware ini membuat web browser diam-diam menambang mata uang virtual Monero.

Laman tersebut masih terinfeksi malware selama beberapa jam sebelum akhirnya dipulihkan.

Malware menyebar melalui plugin website populer bernama Browsealoud. Plugin yang terinfeksi ini dipasang pada 4.200 situs web termasuk di laman layanan kesehatan Inggris dan pengadilan pemerintah Amerika Serikat.

Laman-laman yang terinfeksi ini sempat bisa diakses selama beberapa jam dan aktif menambang Monero di bawah kendali para penyebar malware.

Selama beberapa jam, kemungkinan besar hacker di balik kasus ini bisa mendapatkan keuntungan dalam jumlah cukup banyak.

Texthelp, perusahaan Inggris yang menciptakan plugin tersebut mengonfirmasi, pihaknya telah menghapus kode Browsealoud dari internet saat menyelidiki masalah ini. Dengan demikian, proses mining itu telah ditutup.

Perusahaan juga mengatakan, tak ada data pelanggan yang diakses atau hilang karena hal ini.

Dengan banyaknya malware semacam ini, beberapa browser mengembangkan script blocker untuk memastikan pengguna mereka tetap aman dari malware yang menambang mata uang virtual.

1 dari 3 halaman

Kaspersky: Bitcoin dan Mata Uang Virtual Sarang Malware

Sebelumnya, Kaspersky Lab telah memberi peringatan tentang kerentanan yang patut diwaspadai pada mata uang virtual seperti bitcoin dan lain-lain.

Dalam keterangan yang diterima Tekno Liputan6.com, para ahli Kaspersky Lab mengamati, ada begitu banyak serangan malware terhadap mata uang virtual ini.

Misalnya saja, malware yang menambang bitcoin dengan botnet ataupun trojan yang bisa meretas bitcoin wallet dan mencuri bitcoin dari tempat penyimpanan ini.

Tidak hanya itu, ada juga malware botnet yang memiliki kemampuan menyusup ke komputer korban dan menggunakan prosesor komputer korbannya untuk dijadikan penambang bitcoin yang produktif.

Serangan juga terus terjadi pada bursa mata uang virtual. Contohnya serangan terhadap bursa mata uang virtual terbesar di Amerika Serikat, BitFloor.

Gara-gara serangan ini, BitFloor berhenti beroperasi pada 2012, tepatnya setelah penyerang berhasil menyusup ke server dan mencuri mata uang virtual senilai US$ 250.000 (setara Rp 3,5 miliar).

2 dari 3 halaman

Facebook Blokir Iklan Bitcoin

Masih berkaitan dengan mata uang digital, Facebook misalnya, beberapa lalu juga memblokir iklan bitcoin. 

Bitcoin bukan satu-satunya mata uang digital yang kena dampak pemblokiran iklan Facebook. Ripple ambil contoh, mata uang digital terbesar ketiga tersebut juga mengalami penurunan hingga double-digit. Begitu pun dengan Bitcoin Cash.

Alasan Facebook memblokir iklan seputar mata uang digital tak lain karena mereka ingin memberantas berbagai praktik yang dinilai menyesatkan seperti Initial Coin Offering (ICO, Penawaran Koin Perdana) dan binary option.

"Kami menciptakan sebuah kebijakan baru, yaitu melarang iklan untuk mempromosikan berbagai produk dan layanan finansial, yang sering dikaitkan dengan praktik-praktik promosi menyesatkan seperti binary option, ICO dan cryptocurrency," kata Director Management Product Facebook, Rob Leathern, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (1/2/2018).

Facebook juga akan mengimplementasikan kebijakan baru itu ke semua platform milik perusahaan. Selain Facebook, Audience Network dan Instagram pun akan memberlakukan kebijakan baru tersebut.

Kebijakan baru ini diberlakukan untuk membuat para pengguna terus merasa nyaman saat menggunakan semua layanan milik Facebook.

"Kami ingin orang-orang terus menemukan dan mempelajari tentang berbagai produk dan layanan baru melalui iklan Facebook tanpa takut ditipu. Konon, banyak perusahaan yang mengiklankan binary option, ICO dan cryptocurrency, tidak beroperasi dengan iktikad baik," ungkap Leathern.

(Tin/Jek)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Artikel Selanjutnya
Hindari Phishing, Apple Tingkatkan Keamanan di iOS dan MacOS
Artikel Selanjutnya
Top 3: Miliarder AS Lakukan Hal Tak Terduga buat Gulingkan Trump