Sukses

Bos Go-Jek: Go-Pay dan Bank Tidak Bersaing

Liputan6.com, Jakarta - CEO Go-Jek, Nadiem Makarim, menegaskan layanan pembayaran Go-Pay tidak akan menjadi kompetitor bank. Justru, Go-Pay dan bank akan menjadi mitra yang saling menguntungkan.

Salah satu bukti hubungan tersebut adalah mayoritas jumlah top up atau isu ulang saldo Go-Pay berasal dari bank. Bersama dengan bank, Go-Jek juga akan berusaha mendorong financial inclusion dengan meningkatkan cashless society.

"Kami tidak bersaing dengan bank, tapi justru menjadi mitra dari seluruh bank. Tidak ada Go-Pay tanpa bank, karena kebanyakan top up juga dari bank. Jadi, ini adalah hubungan yang sangat kami jaga," kata Nadiem saat ditemui di Jakarta, Senin (13/2/2018) sore.

Nadiem pun mengklaim kerja sama Go-Jek dan seluruh bank di Indonesia terjalin harmonis.

"Go-Pay dan bank memiliki kerja sama yang kuat, jadi sama sekali bukan ancaman, tension, tapi kolaborasi," tegasnya.

Lebih lanjut, Nadiem mengatakan Go-Pay akan memiliki peran besar dalam mewujudkan visi Go-Jek pada tahun ini yaitu mengurangi penggunaan uang tunai.

Go-Jek akan berusaha membuat dompet digital tersebut semakin membuat nyaman para pengguna, sehingga mereka akan lebih memilih menggunakan layanan tersebut ketimbang uang tunai.

Selain itu, ia berharap peningkatan penggunaan Go-Pay juga akan berdampak positif terhadap transaksi pelaku UMKM di Go-Jek.

"2018 adalah tahun harapan kami agar pengguna tidak lagi harus mengeluarkan uang tunai. Itu adalah visi produk kami. Oleh karena itu, kami akan memberdayakan pengguna (agar menggunakan Go-Pay)," ungkap Nadiem.

1 dari 3 halaman

Suntikan Dana dari Grup Djarum

Terlepas dari Go-Pay, bisnis Go-Jek terus melaju dengan banyak dana segar. Go-Jek pada Senin (12/2/2018), mengumumkan investasi baru.

Kali ini, perusahaan modal ventura milik Grup Djarum, Global Digital Prima (GDP) Ventures, melalui anak usahanya PT Global Digital Niaga (GDN) telah resmi menjadi investor baru Go-Jek.

Pada hari yang sama, Go-Jek juga mengumumkan Astra sebagai investor baru Go-Jek dengan investasi sebesar US$ 150 juta.

Nadiem mengatakan rencana investasi GDN sudah dibicarakan sejak satu setengah tahun lalu. Upaya GDN yang sejak lama mengembangkan UMKM dinilai selaras dengan misi Go-Jek.

"Sebagai sesama pemain lokal di sektor teknologi konsumen, GDN dan Go-Jek memiliki visi sama untuk mendorong produktivitas dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kami akan menjajaki berbagai peluang kemitraan termasuk lini usaha e-commerce dari GDN yaitu Blibli.com dan dengan anak usaha atau afiliasi lainnya dari grup GDN," tutur Nadiem.

 

2 dari 3 halaman

GDN dan Go-Jek Komitmen Menumbuhkan Ekosistem Digital

CEO PT Global Digital Niaga, Kusumo Martanto, juga mengatakan hal serupa. Menurutnya, Go-Jek dan GDN merupakan perusahaan lokal dengan misi untuk memperbesar ekosistem digital di Indonesia.

"Kami berkomitmen untuk memberdayakan Indonesia. Indonesia punya potensi besar sekali di ekonomi digital dan kami ingin menjadi penggerak paling aktif," tutur Kusumo.

GDN dan Go-Jek meyakini teknologi dapat menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sayangnya, kedua belah pihak enggan mengungkapkan jumlah investasi.

Namun, Kusomo mengungkapkan dana yang dikucurkan ke Go-Jek cukup besar dan investasi ini akan menjadi jangka panjang. "Ini investasi yang substansial. Ini membuktikan investor lokal mau berinvestasi di startup lokal," ungkapnya.

(Din/Isk)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini

Artikel Selanjutnya
Anak Muda Gemar Berbisnis, Ini Kesempatan Menangkan Jutaan Rupiah
Artikel Selanjutnya
Mau Dapat Modal Usaha Rp 25 Juta? Yuk Ikut Kompetisi Ini